“Hidup sebagai ungkapan syukur untuk jadi makin baik dan berkenan bagi Tuhan.”
Selalu bertanya pada diri sendiri, “Apakah hidup ini menuju arah yang benar dan makin baik?”
Jika kita ragu menjawab dan belum merasa yakin dengan diri ini, berarti kita hidup dalam dunia yang abu-abu, kelam, atau bahkan bisa jadi dalam kegelapan.
Lho?! Tidak harus kaget dan heran. Karena berarti kita tidak memahami hakikat dan tujuan hidup sendiri.
Sejatinya hakikat dari penciptaan ini adalah hidup harus berorientasi untuk selalu diperbarui dan makin baik. Karena kita ini secitra dan segambar dengan Allah (Imago Dei), Kejadian 1: 26-27.
Ketika dilahirkan ke dunia ini ibarat dari gelap menuju terang. Begitu pula saat kita dibaptis berarti hidup yang lama itu harus ditinggalkan. Kita hidup dalam terang-Nya.
Perubahan menuju hidup baru itu didasari komitmen, konsisten, dan kontinyuitas agar terang Allah makin cemerlang dalam keseharian hidup ini.
Kita juga dapat meneladani Saulus melalui hidup pertobatannya yang dilakukan secara radikal. Semula ia dikenal giat menganiaya pengikut Yesus. Melalui peristiwa di Damsyik, perjumpaannya dengan Yesus itu mengubah hidupnya. Dari pemburu orang Kristen, ia jadi Rasul Kristus yang paling bersemangat, dan dikenal sebagai Santo Paulus.
Sesungguhnya, apa pun peran dan profesi kita, jika dilakukan dengan sepenuh hati dan bertanggung jawab itulah yang mengubah hidup kita makin bermakna. Hidup berkenan bagi Allah.
…
Mas Redjo

