Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Percakapan singkat yang seolah untuk membunuh waktu itu ternyata dapat membahagiakan orang, karena membuat mereka merasa lebih terhubung dan lebih dekat secara emosional.”
(Gillian Sandstorm)
Basa-basi dan Aspek Kemanfaatannya
Sebuah kenyataan negatif sebagai dampak langsung dari “kesibukan berlebihan manusia” justru tidak disadarinya, bahwa ada sebuah tradisi sosial yang seolah sudah terlupakan dan bahkan nyaris hilang.
Padahal di sisi lain, basa-basi itu penting demi membantu kehidupan harian manusia demi menjaga relasi sosial dan menjadikan interaksi antar kita lebih nyaman.
Sekali lagi, basa-basi itu membuat perbedaan yang besar dalam hubungan dengan orang lain.
Basa-basi yang Terlupakan
Ada ironi yang makin terasa dalam kehidupan modern kita yang hidup pada zaman interaksi tanpa henti dengan rapat daring, grup pesan instan, notifikasi real time. Tapi justru ada keheningan sosial yang terasa makin luas. Kita jarang sungguh sendirian, tapi juga jarang benar-benar ‘berjumpa’. Demikian isi paragraf pertama, tulisan Eileen Rachman & Emilia Jakob Konsultan SDM harian Kompas, Sabtu Minggu (24 25 Januari 2026).
Bukankah fakta dan realitas hidup kita dengan kasat mata telah membuktikan, bahwa kita manusia, nyaris meninggalkan ‘basa-basi’, tapi sangat sibuk dengan diri sendiri. Bahkan antara Ayah dan anak yang sedang duduk berdekatan itu tidak sanggup lagi saling berbasa-basi, tapi lebih menukik ke layar HP masing-masing. Lihat saja kebiasaan baru di kantor-kantor atau lembaga pendidikan kita, di sana ‘basa-basi’ sudah dianggap sekadar “buang-buang waktu” saja.
Hal penting dan manusiawi yang justru telah kita lupakan ialah “hubungan manusia itu justru tumbuh dari rasa aman dan merasa diterima” melalui tindakan basa-basi ini.
Apa Dampak bagi Hidup Kita?
Bukankah keberadaan kita, kini kian “aku-kau,” serba formal dan penuh rasa cemas, karena takut salah bertutur? Akhirnya lahirlah sebuah kebersamaan yang dingin, defensif, atau kaku, lalu buru-buru disimpulkan sebagai ‘tidak nyambung’. Seolah masalah itu ada pada orang lain. Demikian Eileen & Emilia.
Bahkan bukankah seorang Pakar Komunikasi Vanessa Van Edwards menganalogikan ‘small talk’ itu sebagai engsel silosial. Bukankah engsel itu kecil nyaris tak terlihat, dan bahkan sering diremehkan, tapi tanpanya pintu hubungan itu tidak akan pernah begerak mulus.
Dalam konteks ini, sejujurnya orang dewasa perlu berguru kepada anak-anak yang dengan spontan, gampang, dan ikhlasnya berelasi dengan sahabatnya, bukan? Ya, mereka bahkan jadi guru kearifan bagi kita orang dewasa.
Sering kali yang terjadi di sekeliling kita, tampak seorang pegawai akan duduk sangat manis tanpa berbasa-basi di samping Bos di kantor. Inilah sebuah pemandangan sebagai dampak negatif dari “lupa berbasa-basi.”
Refleksi
- Bukankah di sebuah planet bumi yang kini bergerak kian cepat ini, aktivitas basa-basi itu justru dapat menyeimbangkan kita dan bertahan di tempat yang paling penting, yakni ‘relasi kemanusiaan.’
- Itulah mutiara yang paling indah yang kian terlupakan dan yang akhirnya toh akan sirna.
“Aku mencari jiwaku, tapi tidak kutemukan. Aku mencari Tuhan, tapi Ia malah menghindari dari diriku. Ketika aku mencari sesamaku, aku malah menemukan ketiga-tiganya.”
(Abou Ben Adhem)
Kediri, 25 Januari 2026

