“Melayani dengan kelembutan, kasih Allah paling kuat saat diungkapkan dengan rendah hati.”
Sabda Allah mengundang kami merenungkan kasih yang memberi diri dengan tenang, kasih yang sering disalahpahami, karena terlalu besar.
Dalam Injil, Yesus masuk ke sebuah rumah, namun Ia tidak menemukan istirahat. Orang banyak kembali berkerumun, hingga Ia dan para murid-Nya tidak sempat makan. Mendengar hal itu, sanak saudara-Nya datang, karena mengira Ia sudah ‘tidak waras’.
Bapa, Yesus berada di rumah-Nya sendiri, namun hidup-Nya sepenuhnya tertuju bagi orang lain. Ia tidak mengukur kasih dengan kenyamanan atau waktu luang.
Kelaparan jiwa manusia lebih penting bagi-Nya daripada kebutuhan-Nya sendiri. Kasih yang rela berkorban ini menandai seluruh hidup-Nya dan mencapai puncaknya di salib Kalvari, saat Ia menyerahkan diri sepenuhnya demi keselamatan kami.
Seperti Daud yang meratapi Saul dan Yonatan, hati Yesus tidak dikuasai oleh persaingan atau kepentingan diri, melainkan oleh kasih yang menghormati sesama, bahkan ketika harus membayar harga pribadi. Daud menangisi orang yang pernah mengejarnya; Yesus mengasihi mereka yang tidak memahami-Nya. Kasih seperti ini bukan kelemahan, melainkan kekuatan yang lahir dari Allah.
Mazmur hari ini jadi doa kami: “Ya, Tuhan semesta alam, pulihkanlah kami; buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat.” Hanya hati yang berpaling kepada-Mu yang mampu mengasihi tanpa takut, melayani tanpa keluh kesah,
dan tetap lembut di tengah kesalahpahaman.
Bapa, bila dilihat dengan kacamata manusia, cara Yesus mengasihi tampak berlebihan, bahkan seolah tidak masuk akal. Bagi sebagian orang, ini terlihat seperti kegilaan. Padahal bukan kegilaan, tapi kasih Ilahi. Yesus selalu tenang dan bebas, karena Ia menyerahkan segalanya kepada-Mu. Kelembutan-Nya menarik orang datang, dan kerahiman-Nya membangkitkan harapan.
Banyak orang kudus yang mengikuti jejak-Nya juga pernah disalahpahami. Mereka dianggap terlalu lembut, terlalu mengalah, bahkan ‘aneh’, karena mereka mengasihi tanpa perhitungan, mengampuni tanpa syarat, dan melayani tanpa mencari balasan. Mereka mengingatkan kami, bahwa kasih sejati sering kali
mengguncang logika dunia.
Bapa, ajarilah kami kekuatan yang lembut ini. Bebaskan kami dari ego
yang ingin menguasai, melindungi diri, atau mencari jalan pintas. Lindungilah kami dari ketakutan
yang menyamar sebagai ‘kewajaran’. Bentuklah dalam diri kami hati Kristus, agar dalam melayani sesama kami memancarkan kelembutan kasih-Mu. Biarlah doa ini meresap ke dalam hati kami. Ajarlah kami memandang setiap orang sebagai putra-putri terkasih Putra-Mu. Curahkanlah kerahiman-Mu atas kami, agar perkataan, sikap, dan tindakan kami jadi saluran terang dan harapan-Mu bagi dunia.
Jadikanlah kami lembut, setia, dan
kudus oleh kerahiman-Mu.
Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

