“Seandainya menjelang akhir hidup kita diberi kesempatan oleh Allah untuk sebuah permohonan, apa yang mau diminta?”
Maaf, jika pertanyaan itu dianggap lancang. Tapi tidak ada salahnya, jika direfleksikan dalam hidup ini. Karena sesungguhnya hidup adalah kesempatan terbaik yang diberikan Allah untuk mewujudkan cita-cita, impian, dan harapan kita.
Bagi orang sakit, apalagi yang kritis dan menahun, tentu ingin sembuh dan sehat kembali. Pertanyaannya, apakah dengan kesembuhan itu membuat kita jadi sadar diri untuk mengelola hidup sehat dan berguna bagi sesama, atau kita mengulang gaya hidup lama yang tidak sehat itu, sehingga jatuh sakit lagi?
Bagi orang yang berkekurangan, miskin, dan menderita. Ketika dianugerahi rezeki berkelimpahan. Apakah kita akan memanfaatkan untuk kepentingan sendiri, berfoya-foya, mengelola rezeki itu sebagai aset masa depan, atau berbagi pada sesama agar hidup berlimpah sukacita?
Bagi rakyat kecil dan kebanyakan, ketika dipercaya dengan jabatan dan kekuasaan. Apakah kita lalu lupa diri, seperti kisah Petruk jadi Ratu? Atau kita mewujudkan untuk melayani rakyat agar hidup ini amanah?
Permohonan jadi nyata adalah anugerah Allah pada kita yang luar biasa. Tapi, sayangnya mayoritas dari permohonan kita itu bertujuan dan sebatas demi kenikmatan daging, duniawi. Sedikit sekali dari kita yang mohon hal-hal Surgawi. Misalnya agar anak cucu kita jadi biarawan/wati, pengkhotbah (pendakwah), dan saksi kasih-Nya agar hidup kita bermakna.
Sejatinya, hidup yang diarahkan, ditujukan untuk diri sendiri dan dunia semara itu adalah kesia-siaan, tiada guna, dan mubazir. Tapi hidup kita yang berasal dari Allah hendaknya dikembalikan kepada-Nya. Hidup yang berguna dan bermakna bagi sesama!
Selalu mohonlah pada Allah agar kita sukses memanfaatkan dan mewujudkan kesempatan itu!
…
Mas Redjo

