Halaman 22 Buku Putih: tentang Membangun Iman dengan Jujur.
“Hari ini saya senang betul, Pak. Tuhan masih pelihara saya,” kata seorang Ibu yang semalam bersama suaminya ke rumah, sekadar ‘uluk salam’, karena sudah sangat lama tidak bertemu.
Dia memberi tahu, kalau pagi ini (kemarin) mau ketemu Romo M untuk membaptiskan anaknya yang kecil.
“Apa bisa ya, Pak?” Mungkin dia ragu, karena pembaharuan nikahnya sedang diurus. “Katakan saja apa adanya kepada Romo. Kita mesti percaya, hanya Tuhan yang bisa kita andalkan, dan Romo jadi utusan-Nya,” jawab saya. Lagi pula, Ibunya yang mempunyai masalah, mengapa anaknya yang belum tahu apa-apa harus ikut memikul beban? Ternyata Romo menjawab, “Boleh.” ‘Gusti pancen ora sare’.
Seorang Ibu yang membawa anaknya kepada Tuhan, meski sedang memikul bebannya sendiri itu ibarat Ibu yang membangun mezbah di dalam rumahnya. Teruskan, Bu, karena doa seorang Ibu adalah sayap bagi iman anaknya.
Tuhan tidak selalu memanggil mereka yang sudah sempurna, tapi Tuhan selalu memampukan mereka yang mau melangkah dengan jujur.
Salam sehat.
…
Jlitheng

