Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Berapa biaya ceramah Anda, bila saya akan mengikutinya”
(Jawab seorang Biksu)
Planet bumi yang juga disebut dunia yang kini telah dihuni oleh lebih dari tujuh miliar manusia cenderung mengukur seluruh aktivitas hidup ini dengan nilai uang. Sebuah jasa baik akan selalu diukur dengan uang.
Semua Aktivitas pun Diukur dengan Nilai Uang
Apa dampak dari fenomena nan konyol ini? Secara psikologis apa dampaknya bagi kemanusiaan mondial?
Dampaknya antara lain, orang yang tidak berharta pun tentu akan segera beralih langkah, bukan? Sebaliknya orang yang berharta alias hartawan pun masih akan bertanya, “Berapa biayanya?” Jika Anda menjawab, bahwa aktivitas ini tidak dipungut biaya, maka apa kesimpulan dari hartawan itu, “Oh, tentu ceramah Saudara itu tentu tidaklah bermutu.”
Inilah realitas dunia kita. Karena segala sesuatu akan ditakar dengan nilai: rupiah, ringgit, yen, yuro, dinar, pound sterling, dan dolar. Dalam konteks ini, tentu si miskin papa hanya akan jadi penonton abadi.
Jadi, alangkah nista dan murahnya nilai humanitas dalam hidup yang serba konyol ini, bukan?
Pengajaran yang Tidak Ternilai
Seorang wanita Amerika pernah menelepon seorang Biksu yang dikenal sangat piawai sebagai seorang Guru meditasi.
“Saya dengar Anda seorang Guru meditasi berbakat,” tanyanya dari balik telepon.
“Ya, benar Bu,” jawab Biksu itu dengan sangat sopan.
“Berapa tarif Anda?” wanita itu langsung bertanya ke inti masalahnya?
“Tidak ada tarif, Bu.”
“Kalau begitu, Anda pasti tidak profesional!” Dia pun langsung menutup teleponnya.
Beberapa tahun yang lalu, saya pun pernah menerima telepon seperti itu dari seorang wanita keturunan Polandia – Australia.
“Benarkah Anda akan berceramah di Wihara, Anda nanti malam?” tanyanya.
“Ya, Bu. Mulai pukul 08.00 malam,” saya menjawabnya.
“Berapa biayanya?” tanyanya.
“Tak ada Bu, gratis,” jelas saya. Setelah itu ada jeda sesaat.
“Anda belum menangkap maksud saya,” katanya dengan keras. “Berapa banyak uang yang harus saya berikan untuk boleh mendengar ceramah Anda itu?
“Bu, Anda tak perlu memberikan uang, ini gratis,” kata saya.
“Dengar, dia berteriak dari seberang. Dolar! Sen! Berapa banyak yang harus saya bayar untuk bisa masuk?”
Lama berselang, maka dia menjawab, “Baiklah, jika gratis lalu apa yang kalian dapatkan dari situ?”
“Kebahagiaan, Bu,” jawab saya, “Kebahagiaan.”
Dewasa ini, bila ada orang yang bertanya berapa harga pengajaran ini, saya tidak pernah lagi bilang gratis. Saya menjawab bahwa pengajaran itu tak ternilai.
(Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya)
Manusia itu kini ibarat sebuah Kalkulator Berkarat
Itulah sifat khas kita sebagai seorang manusia. Itulah pula pola dan tingkahnya. Dunia ini sudah terjebak dalam ukuran duniawi semata.
Namun di sisi yang lain, manusia telah melupakan kodrat mulianya. Kini manusia itu ibaratnya sebuah kalkulator karat semata!
Refleksi
“Nemo Dat Quod Non Habet”
“Tidak Seorang pun yang Memberi dari Apa yang tidak Dimilikinya)
(Hukum Romawi)
“Res Sub Specie Aeterminatis”
“Melihat Segala Sesuatu dari Sudut Pandang Keabadian?
(Baruch de Spinoza)
“Manusia, Oh, Manusia,
Betapa Angkuhnya, Engkau!”
Kediri, 22 Januari 2026

