Dalam sejarah manusia, kita berkali-kali melihat benturan besar antara kejahatan melawan kebaikan. Kisah Daud melawan Goliat dalam Perjanjian Lama adalah gambaran yang sangat kuat: seorang muda kecil, tanpa baju zirah dan tanpa senjata perang yang layak, berdiri di hadapan raksasa bersenjata lengkap. Secara manusiawi, itu seperti perlawanan yang mustahil. Namun Daud tidak maju dengan kekuatannya sendiri; ia maju dengan iman, dengan keberanian yang lahir dari keyakinan, bahwa hidup ini berada dalam tangan Allah. Di sini kita melihat, bahwa kejahatan sering tampil mengintimidasi, besar, keras, dan penuh ancaman, tapi kebaikan memiliki daya yang lebih dalam: kebenaran yang berasal dari Tuhan.
Dalam Perjanjian Baru, benturan itu tampak lebih kelam. Kaum Farisi, Herodian, dan para pemuka agama bersatu melawan Yesus. Bukan karena Yesus melakukan kejahatan, melainkan justru Ia membawa terang yang menyingkapkan kepalsuan. Kejahatan sering takut pada kebenaran, sebab kebenaran membuka topengnya. Maka Yesus dihadang dengan berbagai cara: fitnah, jebakan, manipulasi massa, hingga hukuman mati. Secara lahiriah, kebaikan seolah kalah: Sang Putra Allah disalibkan. Tapi kebaikan bukan menurut ukuran dunia. Kebaikan menang, karena Yesus tidak membalas kebencian dengan kebencian; Ia menaklukkan kekerasan dengan kasih, dan maut dengan kebangkitan.
Mengapa dalam ‘perang’ ini kebaikan selalu menang?
- Pertama: kebaikan berakar pada Allah yang kekal, sedangkan kejahatan adalah penyimpangan yang rapuh.
- Kedua: kebaikan menyatukan, sementara kejahatan pada akhirnya menghancurkan dirinya sendiri: ia bertumbuh lewat dusta, tapi dusta selalu memerlukan dusta baru, sampai akhirnya runtuh oleh kontradiksi.
- Ketiga: kebaikan memiliki daya hidup yang kreatif. Ia membangun, memulihkan, dan memberi harapan. Sedangkan kejahatan hanya mampu merusak dan mengosongkan.
Ketika kebaikan tampak kalah sementara, sebenarnya ia sedang menanam benih kemenangan yang lebih besar dan lebih murni.
Mengapa kejahatan itu kalah, tapi tidak pernah menyerah? Karena kejahatan tidak memiliki ‘hidup’ sejati; ia hidup dari menempel pada yang baik dan memutarbalikkannya. Ia tidak dapat mencipta, hanya dapat memalsukan. Sebab itu ia terus melawan Tuhan, manusia, dan bahkan tatanan alam semesta, karena dalam perlawanan itulah ia mencoba bertahan. Kejahatan juga tumbuh dari kesombongan: ia ingin jadi pusat, ingin menguasai, ingin diakui. Maka ia tidak berhenti, sebab berhenti berarti mengakui bahwa dirinya bukan Tuhan. Di sinilah tragisnya: kejahatan terus berjuang, tetapi setiap perjuangan itu justru memperlihatkan, bahwa ia tidak memiliki kemenangan yang final.
Kita juga harus jujur: kejahatan tidak hanya ada ‘di luar’ sana, pada musuh besar atau sistem yang jahat, melainkan juga mengintai dalam hati manusia: iri, dendam, manipulasi, egoisme, ketidakadilan kecil yang dianggap biasa. Kejahatan sering kalah dalam skala besar, karena Tuhan setia, tapi ia tetap bertahan dalam skala kecil, karena manusia bisa lengah. Karena itu, kemenangan kebaikan bukan sekadar kisah heroik Daud atau Yesus; ia jadi panggilan rohani harian: memilih jujur, ketika mudah berbohong; mengampuni, ketika hati ingin membalas; dan memilih merawat, ketika dunia terbiasa merusak.
“Ya, Allah Yang Maha Benar dan Maha Baik, di dalam Dikau, kami berlindung. Pada-Mu, kami bersandar untuk selalu diberkati dengan pemberian-Mu yang baik dan benar. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

