Halaman 21 Buku Putih: tentang Notifikasi Cinta Keluarga.
Dari sudut meja kerja, aku membalas surat anakku.
Sayangku,
Surat kecilmu yang tertinggal di sudut kamar itu terasa lebih panas dari baterai ponsel mana pun yang pernah Papa dan Mama genggam.
Membacanya membuat jantung kami berhenti berdetak sejenak, jauh lebih mengejutkan daripada dering telepon sepenting apa pun.
Maafkan kami, Nak. Kami terlalu sibuk menatap layar yang menyala, sampai lupa, bahwa ada binar di matamu yang jauh lebih terang namun mulai meredup, karena diabaikan.
Kami terlalu takut tertinggal kabar dari dunia luar, sampai kami lupa, bahwa duniamu, masa kecilmu itu sedang melesat pergi tanpa bisa kami hentikan.
Kamu benar, ponsel bisa kami ganti kapan saja. Namun, setiap detik yang hilang saat kamu ingin bercerita, setiap pelukan yang tertunda, karena kami sedang mengetik pesan, dan setiap tawa yang tidak kami saksikan, karena mata kami tertuju pada video orang lain… itu adalah kerugian terbesar dalam hidup kami.
Mulai hari ini, Papa dan Mama ingin belajar ‘mematikan’ dunia luar untuk ‘menghidupkan’ duniamu. Kami ingin meletakkan benda mati ini, untuk menggenggam tanganmu yang hangat. Kami ingin kaulah yang jadi ‘notifikasi’ paling utama dalam hari-hari kami.
Terima kasih telah mengingatkan kami sebelum semuanya terlambat. Terima kasih telah jadi ‘pesan’ paling indah yang pernah Tuhan kirimkan ke dalam hidup kami.
Peluk erat, Papa dan Mama.
Jlitheng

