“Iman yang Bertindak, Kerahiman yang Menyelamatkan.”
Sabda Allah mengajar kami tentang arti iman percaya sejati dan di mana kekudusan yang sesungguhnya itu berada.
Dalam Injil, Yesus memasuki rumah ibadat pada hari Sabat. Semua mata tertuju, bukan kepada Allah, melainkan kepada seorang yang tangannya mati sebelah
dan kepada Yesus sendiri.
Ada yang melihat orang ini sebagai kasus. Ada yang melihatnya sebagai alat jebakan. Namun Yesus melihatnya sebagai pribadi: seorang yang menderita itu layak dikasihi, dan tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
Yesus mengenal Hukum Taurat, tapi Ia juga sangat mengenal hati Allah. Hati-Nya tidak pernah memilih aturan di atas kasih, keheningan di atas belas kasihan, atau kematian di atas kehidupan.
Yesus memanggil orang itu ke tengah-tengah. Ia membawa penderitaan ke pusat perhatian. Lalu Ia mengajukan pertanyaan
yang hingga kini masih mengetuk nurani kami: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat: berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?”
Tidak seorang pun menjawab. Ketakutan, kesombongan, dan hati yang mengeras membungkam suara mereka. Dalam keheningan itu, Bapa, kami melihat bagaimana agama bisa tetap berjalan, walaupun kasih pelan-pelan mati.
Yesus tidak mundur. Ia tidak menunggu izin untuk mengasihi. Ia bersabda kepada orang itu: “Ulurkanlah tanganmu.” Kelemahan pun dipulihkan. Kehidupan menang, tepat di tengah penolakan.
Keberanian iman yang sama kita lihat dalam diri Daud yang menghadapi Goliat. Ia tidak mengandalkan baju zirah, ukuran tubuh, atau kekuatan manusia. Ia mengandalkan Engkau. “Tuhan yang menyelamatkan aku dahulu akan menyelamatkan aku sekarang.” Daud melangkah maju, bukan karena ia merasa kuat, melainkan karena ia tahu siapa yang berperang baginya.
Itulah sebabnya kami berdoa bersama Pemazmur: “Terpujilah Tuhan, gunung batuku.” Engkau melatih tangan kami, bukan hanya untuk pertempuran, melainkan untuk kesetiaan, belas kasih, dan memilih yang baik, meski ada harga yang harus dibayar.
Bapa, sering kali kami seperti orang banyak itu yang diam; takut mengatakan kebenaran, takut memilih kasih dan kerahiman, serta
takut bertindak, ketika kasih itu menuntut keberanian.
Berilah kami iman Daud dan hati Yesus. Ajarlah kami bersandar pada-Mu, bukan pada posisi, persetujuan, atau kenyamanan.
Jadikan iman kami iman yang hidup, belas kasih kami nyata,
dan ketaatan kami berakar dalam kasih. Jangan biarkan kami memakai hukum-Mu untuk menahan kehidupan, melainkan izinkan Roh-Mu menuntun kami untuk berbuat baik, menyembuhkan, dan menyelamatkan. Sekali lagi dan lagi, dengan iman yang teguh dan setia.
Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

