Oleh: Fr. M. Christoforus, BH
“Aku akan selalu bersamamu dari satu kehidupan ke kehidupan lainnya.”
(Sahut Istri Pertama)
Planet bumi ini adalah satu-satunya sebagai tempat kediaman dan bertumbuh kembang umat manusia, dari awal ciptaan dunia dan hingga sekarang.
Di dalamnya manusia hidup, bergerak bebas, nyaman, pun ada resahnya yang akan berakhir dengan sebuah kematian.
Kisah Pria dengan Empat Istri
Dalam hidupnya, Pria ini tergolong pribadi terhormat dan sukses. Dia menikahi hingga empat istri dalam waktu yang berbeda-beda.
Kini sambil terbaring lemah di ranjang sakitnya, dipanggilnya istri pertamanya dan berkata, “Engkau istri yang paling legendaris bagiku. Setelah kematianku nanti, tentu aku akan sangat bersedih, karena tanpamu lagi. Maukah engkau ikut bersamaku?”
“Tidak mau, aku akan tetap di sini dan akan berdoa untukmu, dan tidak lebih daripada itu.” Lalu dia beranjak pergi…
Kini sadarlah Pria malang itu. “Ah, betapa besar curahan hatiku kepadanya sebagai gadis legendaris. Ternyata lambat laun cintanya padaku hanya sebatas waktu.”
Kini dipanggilnya istrinya yang kedua, “Aku menikahimu tatkala aku telah berusia baya. Engkau sangat membahagiakan aku. Seingatku, betapa banyak pria yang menyukaimu. Manisku, maukah engkau untuk pergi bersamaku?”
“Oh, maaf, Kangmas, tentu sama sekali tidak. Itu tak mungkin, karena tugasku ialah menyiapkan acara pemakamanmu dengan sebaik-baiknya, bukan? Sesudah acara pemakamanmu, aku berniat untuk menggaet putramu satu-satunya itu.”
Mendengar ocehan murahan itu, maka dengan kemarahan diusirnya istri keduanya itu.
Lalu dipanggilnya istri ketiga. Pria itu sadar, bahwa istri ketiganya ini memang kurang menarik hatinya. Tapi, dia setia memecahkan masalahnya. Dia adalah istri, juga sebagai sahabat terbaik.
“Kasihku,” sambil menatap sorotan mata sang istri. “Sudikah engkau mau pergi bersamaku?”
“Maafkan aku Priaku, dengan penuh penyesalan. Tapi, aku bersedia menemanimu hingga ke liang lahat.”
Kini betapa remuk hati Pria yang kebablasan itu. Dia sungguh sadar akan penolakan yang bertubi-tubi itu. Kini dalam ragu, dia memanggil istrinya yang keempat. Ia sungguh sadar, bahwa istrinya yang keempat ini, akhir-akhir ini memang jauh dari perhatiannya. Sejak awal pernikahannya, ternyata wanita ini adalah orang yang terpenting baginya. Kini dialah istri yang tampak paling lusuh di matanya.
“Sayangku,” sambil dengan bernada bermohon. “Sebentar lagi aku akan pergi untuk selamanya. Maukah engkau untuk pergi bersamaku?”
“Ya, tentu saja aku akan sedia dan setia pergi bersamamu dari hidup di dunia ini hingga ke dunia lainnya, karena bukankah aku ini adalah istrimu?”
Setelah mendengar sahutan reaksi dari keempat istrinya, maka dalam diam Pria itu sangat terharu dan menyimpulkan: istri pertamaku adalah karma. Istri keduaku adalah keluarga. Istri ketigaku adalah kekayaan. Istri keempatku adalah kemasyuran!
Dengan mata menerawang jauh dan dada berdebar, hatinya berkata, “Oh, sang kehidupan, beginikah akhir dari sebuah ziarah hidupku?”
Oh, Tuhanku, istri yang manakah yang paling berharga untuk dipelihara? Mana yang akan setia dan bersedia untuk pergi bersamaku kelak?
(Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya)
Refleksi
Sebuah Tanya kepada Semesta Raya
Itulah kisah sebabak sandiwara tentang nahasnya nasib akhir dari kehidupan manusia serakah.
Apakan Tuhan yang jadi sutradara di dalamnya? Ataukah justru nafsu-nafsu serakah dan egoisme manusia yang telah dengan rakus serta angkuh merancang kehidupan ini…?
Bukankah nasib akhir hidup manusia itu kelak justru hanya ditentukan oleh Tuhan?
Sungguh, saudara!
“Cinta adalah sejenis pertempuran”
“Militiae Species Amor est”
(Ovidius)
Kediri, 21 Januari 2026

