“Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tapi Tuhan melihat hati” (1 Sam 16: 7b).
Ketika Samuel mengurapi Daud, semua orang terkejut, bukan karena Daud hebat, melainkan karena ia justru yang paling kecil, hanya seorang gembala yang dipandang sebelah mata. Namun, Tuhan melihat yang tidak dapat dilihat manusia, hati yang sederhana dan tulus. Kisah seperti ini sering terjadi di dalam hidup kita. Ada banyak orang merasa tidak cukup: tidak cukup pintar, tidak cukup berhasil, tidak cukup kuat. Namun, justru dalam kelemahan itu, Tuhan menyatakan kasih-Nya, Ia memilih bukan berdasarkan ukuran dunia, melainkan berdasarkan hati.
Seorang Sineas muda Indonesia pernah bersaksi, bahwa ia pun sering merasa tidak berarti, penuh keraguan, bahkan takut karyanya sia-sia. Namun, di tengah perjalanan rohani, ia sadar karya terindah lahir, ketika ia berani menyerahkan hidup ke dalam tangan Tuhan, bukan saat ia mengandalkan kekuatannya sendiri.
Kita juga dipanggil untuk percaya. Tuhan dapat memakai setiap keterbatasan kita jadi jalan berkat dan hati yang mau dibentuk lebih berharga dibanding penampilan/keberhasilan di mata manusia.
Sr. M. Yvonne, P. Karm
Selasa, 20 Januari 2026
1 Sam 16: 1-13 Mzm 89: 20-22.27-28 Mrk 2: 23-28
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

