“Stop and go.” -Pope Francis
Kalau kita merasa jalan ini lebih lambat dari orang lain itu tidak apa-apa. Kalau kita merasa lambat sampai tujuan, itu tidak apa-apa. Kalau kita merasa jalur ini terasa berat, banyak rintangan, tikungan dan penuh jalan terjal itu juga tidak apa-apa.
Hidup tidak perlu diperbandingkan. Nikmati, syukuri, dan jalani dengan sukacita. Itulah kuncinya! Dalam hidup kadang kita perlu berhenti, berhati-hati, dan jalan terus. Mungkin kita perlu belajar dari ‘trafic light’. Saat lampu hijau kita jalan terus dan aman untuk sampai tujuan.
Saat lampu kuning, kurangi kecepatan, berhati-hati dan waspada. Selama kita bernafas tantangan itu selalu ada, masalah selalu datang, dan cobaan selalu mengintai, karenanya perlu kehati-hatian, waspada dan berjaga. Nyatanya yang sering terjadi saat lampu kuning malah gas pol… yang ketawa pernah mengalami itu pasti.
Saat lampu merah, kita perlu sejenak berhenti. Kalau jalan terus itu mencari mati namanya. Berhenti sebentar itu tidak lama. Kadang seperti itu lelahnya hidup, penatnya, tekanannya, dan indahnya perjalanan hidup ingin terus berjalan. Sejenak kita perlu berhenti untuk istirahat, melihat kebelakang, bersyukur, dan berefleksi. Agar perjalanan kita selanjutnya itu penuh arti dan bermakna.
Hidup itu bukan arena balapan yang harus cepat sampai di garis finish. Dalam hidup itu tidak ada yang menang atau kalah. Yang ada ialah terus berjuang, bersyukur, berdoa dan ‘never give up’.
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj

