Kisah tentang Raja Saul dalam Kitab Samuel itu menggambarkan cara Allah menegur Raja Saul. Saul mengabdikan diri kepada Allah dengan mempersembahkan korban bakaran dan sembelian, tapi ia mengabaikan perintah-Nya. Di sinilah Firman Allah ditegaskan dengan kuat: yang utama itu bukan persembahan lahiriah, melainkan ketaatan yang lahir dari hati yang mendengarkan dan percaya. Kurban tanpa ketaatan kehilangan maknanya, karena Allah menginginkan relasi mesra, bukan hanya ritual.
Ketika Allah berbicara dan memberikan perintah-Nya, sikap dasar manusia seharusnya adalah mendengar, percaya, dan melaksanakannya. Mendengar berarti membuka hati, bukan hanya telinga. Percaya berarti percaya, bahwa Firman-Nya membawa kehidupan, bukan beban. Melaksanakan berarti membiarkan Firman itu membentuk pilihan, sikap, dan tindakan nyata. Ketaatan adalah syarat dasar untuk tumbuh dan berbuahnya iman.
Relasi ini digambarkan bukan sebagai relasi yang jauh dan menakutkan, melainkan relasi yang dekat seperti orangtua dan anak. Allah yang berbicara adalah Allah yang peduli, membimbing, dan yang menguatkan. Kehadiran-Nya bukan sesuatu yang abstrak, melainkan dapat dialami dalam kehidupan sehari-hari. Ketika manusia hidup dalam terang Firman-Nya, ia tidak berjalan sendirian, tapi ditopang oleh kuasa dan kasih setia Allah.
Pengalaman akan kehadiran Allah seharusnya mendorong rasa syukur dan perayaan iman. Ketika Allah sungguh dirasakan, kehidupan iman tidak jatuh ke dalam rutinitas yang kering atau disiplin yang dipaksakan. Puasa dan praktik spiritual lainnya seharusnya bukan sekadar kewajiban, tapi ungkapan kasih dan kerinduan kepada Allah. Jika praktik spiritual kehilangan semangat kasihnya, manusia akan menjauh dari Allah yang hidup.
Injil menegaskan, bahwa selama mempelai laki-laki sedang ada bersama kita, kita tidak perlu berpuasa. Mempelai ini melambangkan kehadiran Allah yang menyelamatkan dan membawa sukacita. Ketika Allah hadir dan dialami secara nyata, yang tepat bukanlah ratapan, melainkan sukacita dan rasa syukur. Puasa jadi relevan, ketika mempelai itu ‘tidak ada’, yaitu ketika manusia mengalami kekosongan, jarak, dan kerinduan akan Allah. Pada saat itulah puasa jadi sarana pertobatan dan pencarian akan kehadiran-Nya.
Oleh karena itu, hidup dalam terang Firman Allah berarti mengutamakan ketaatan di atas formalitas, relasi di atas ritual, dan cinta di atas kebiasaan kosong. Persembahan sejati adalah hati yang bersedia dibentuk oleh Firman Allah. Dalam ketaatan itu manusia mengalami Allah yang dekat, menguatkan, dan selalu mencurahkan berkat, kasih sayang, dan rahmat-Nya dalam kehidupan sehari-hari.
“Ya, Allah Yang Maha Kuasa, tambahkanlah iman kami kepada-Mu, agar kami selalu dapat merasakan kehadiran-Mu yang memberi kehidupan. Amin,”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

