“Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua…” (Mrk 2: 22a).
Seorang pembuat anggur di zaman dahulu tahu betul, bahwa anggur baru harus disimpan dalam kantong kulit yang baru. Jika tidak, proses fermentasi akan membuat kantong tua yang kaku itu robek dan hancur. Ia tidak akan mempertaruhkan hasil karyanya yang berharga itu hanya karena terlalu nyaman memakai kantong lama.
Yesus menggambarkan pengajaran dan kehidupan yang diperbarui di dalam Kristus seperti anggur baru. Anggur baru ini tidak bisa dituang ke dalam ‘kantong tua’, yaitu cara pikir dan sistem keagamaan lama yang kaku, penuh rutinitas tanpa relasi, dan tidak memberi ruang bagi Roh Kudus bekerja.
Iman bukan sekadar mengikuti aturan atau menjalani rutinitas rohani. Iman adalah relasi yang hidup dengan Yesus yang mengubah, melembutkan, dan membentuk kita hari demi hari. Hati yang keras, kaku, dan tertutup tidak akan sanggup menampung karya baru yang ingin Tuhan lakukan.
Apakah kita masih mempertahankan kantong lama, karena merasa nyaman dengan kebiasaan rohani yang dangkal? Atau apakah kita siap jadi kantong yang baru: lembut, lentur, dan siap diisi oleh pembaruan dari-Nya?
…
Endang
Senin, 19 Januari 2026
1 Sam 15: 16-23 Mzm 50: 8-9.16-17.21.23; Mrk 2: 18-22
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

