“Tuhan memilih yang mau bukan yang mampu.” -Rio, Scj.
Ketika pelayanan terasa berat, pernah tidak kita merasa pelayanan itu membuat capek hati. Bukan karena Tuhan, melainkan karena manusia itu ada yang salah paham, iri, tidak suka, bahkan ada yang sengaja menjatuhkan.
Kita datang dengan hati melayani, tapi pulang dengan hati terluka dan tersakiti. Dalam hati kita berkata, “Tuhan aku cuman mau melayani-Mu, tapi kenapa malah begini.” Justru di saat seperti itulah Iblis bekerja paling halus, dia berbisik lembut di telinga, “Sudahlah berhenti saja! Di luar sana hidup lebih bebas, lebih tenang.” Perlahan, tapi pasti semangat kita mulai turun. Kita mulai jarang berdoa, mengikuti pelayanan, dan mulai merasa mungkin kita tidak cocok melayani. Itulah perang rohani; Iblis tahu selama kita melayani Tuhan. Kita sedang membawa terang di tengah kegelapan. Maka dia akan mencoba memadamkannya.
Ingat baik-baik pelayanan itu bukan tentang kenyamanan, melainkan ketaatan. Bukan tentang siapa yang melihat, melainkan tentang siapa yang dilayani. Tuhan tidak membutuhkan yang sempurna. Dia mencari yang setia, dan tetap berdiri, walau jatuh. Yang tetap datang, walau disakiti; yang tetap berdoa, walau kecewa; yang tetap melayani, walau berlinang air mata. Satu hal yang paling ditakuti Iblis adalah tetap ikhlas melayani, walau hati kita terluka dan berdosa. Tuhan memilih yang mau, bukan yang mampu.
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj

