Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Der Wille zur Macht”
“Kehendak untuk Berkuasa”
(FW Nietzsche)
Siapakah itu Nietzsche?
Dia seorang filsuf asal Jerman yang hidup pada abad ke-19 (1844-1900). Dia dikenal sebagai seorang filsuf yang sangat radikal dan kontroversial tentang filsafat, seni, dan budaya. Di dalam tulisan ini, saya mengutip adagiumnya, “Der Wille zur Macht” (Kehendak untuk Berkuasa).
Bagi Nietzsche, kehendak untuk berkuasa merupakan kekuatan (power), yang mendorong kehidupan seorang manusia untuk tetap dinamis. Kehendak berkuasa merupakan kekuatan purba yang mendorong seluruh titah kehidupan manusia pada kehendaknya untuk mencapai kreativitas, kebanggaan, dan kehendak kuat untuk menegaskan dirinya. Demikian Ihsan Nursidik, Pangalengan, Kabupaten Bandung lewat opininya berjudul, “Politisi Tak Berkehendak, Surat kepada Redaksi, Kompas, Selasa, (13/1/2026).
Dionysus dan Apollo
Ihsan Nursidik sempat mengutip “The Birth of Tragedy” (1872), yang memaparkan sebuah kisah perlambangan atas kekuatan purba ini. Kisah Dewa Yunani lewat dua kutub yang saling bertentangan, yakni Dionysus dan Apollo.
Apollo adalah penggambaran sosok yang khas akan kekuatan dari pemikiran rasional, logika yang terstruktur, dan terarah. Di sisi lain, Dionysus mewakili suatu unsur kekuatan yang bebas tak terkendali, tapi kreatif. Demikian Ihsan Nursidik.
Kisah Dionysus dan Apollo, jika disandingkan dengan pemikiran itu, maka kuktur politik kita hari ini masih bernuansa ‘abu-abu’. Penuh permainan dan drama picisan tanpa kehendak prima untuk mewujudkan suatu pembongkaran kultur dan sistem yang sudah menjemukan. Demikian Ihsan Nursidik.
Selanjutnya Ihsan mendeskripsikan, bahwa kondisi para politisi kita, kini ibarat orang yang sedang bermain dadu yang dikendalikan oleh ketua partai dan dikuasai oleh segelintir orang yang sedang berkuasa. Sebuah pertanyaan kritis, hingga kapan permainan dadu yang bersifat abu-abu ini akan terus berlangsung?
Realitas Menantang di Negeri ini
Apa yang kita saksikan hari-hari ini di negeri konoha ini? Ya, yang tampak kasat mata ialah ‘wajah-wajah dungu yang haus kuasa,’ juga sebagai kesempatan untuk mengumpulkan harta.
Refleksi
Kebijaksanaan pun telah mengajarkan kita, bahwa “Bersikaplah transparan dan jangan abu-abu!”
“Homo homini lupus”
“Manusia adalah serigala bagi sesamanya”
(Plautus)
…
Kediri, 14 Januari 2026

