Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kunci keberhasilan adalah rasa syukur dan totalitas dalam bekerja dan kebersamaan, saling peduli.”
(Jakob Oetama)
Apakah itu “Abilene Paradoks?”
Ialah sebuah konsep psikologi sosial yang diperkenalkan oleh Jerry B. Harvey (1974), yakni ketika suatu kelompok membuat keputusan yang tidak diinginkan oleh siapa pun, karena setiap orang salah mengasumsinya, bahwa orang lain ingin akan keputusan itu.
Padahal di sisi lain, setiap orang setuju, karena mereka berpikir, bahwa orang lain sependapat dengan hal itu, sehingga tidak ada orang yang berani untuk mengungkapkan pendapat mereka. Jadi, dalam konteks ini, bahwa inilah sebuah keputusan yang tidak efektif atau tidak diinginkan.
Budaya “Yes – Man”
Di banyak organisasi, rapat yang dianggap baik sering didefinisikan sebagai selesai tepat waktu, berjalan tenang, tidak ada debat bernada tinggi, dan ditutup dengan kesepakatan. Ukuran ini tidak sepenuhnya keliru mengingat banyak rapat yang berlarut-larut tanpa kejelasan tindak lanjut. Demikianlah isi paragraf pertama dalam kolom Experd, berjudul, “Budaya “Yes- Man” oleh Eillen Rachman & Linawaty Mustopoh. Kompas, Sabtu, Minggu, (10/1/2026).
Dalam kondisi seperti ini, setiap anggota akan bersikap “asal Tuan senang.” Karena tidak ada yang berani memunculkan perbedaan pandangan dan pendapat. Mereka bersikap serba sepakat hanya demi sebuah sikap basa-basi dan saling menjaga agar suasana terkesan nyaman. Biasanya tak jarang, akan terdengar ucapan, “Sebenarnya waktu itu saya ragu.” Atau “Sebenarnya saya ingin menyela pendapat A, tapi ya, biarlah demi kenyamanan kita bersama.”
Inilah Sebuah Bahaya Laten
Apakah kenyataan unik dalam beroraganisasi model ini sebagai budaya khas bangsa kita? Karena adalah sebuah fakta juga, bahwa “dalam banyak organisasi, terutama yang memiliki hierarki kuat dan cara kerja mapan, perilaku kepatuhan ini sering dipersepsikan sebagai cara aman untuk bertahan. Pola ini merupakan warisan panjang yang dipelihara oleh sistem, pengalaman masa lalu, dan ketakutan kolektif,” demikian Eillen & Linawaty.
Fakta miris model ini memang sudah jadi kekhasan dalam hidup bermasyarakat kita. Orang bersikap patuh bukan karena hal itu memang pantas untuk dipatuhi, melainkan kepatuhan itu ditampilkan atas nama sebuah toleransi semu, demi tidak menyakiti pihak mana pun.
Menariknya, Anoop Suri (penulis dan motivator India), memandang fenomena ini sebagai tradisi kekuasaan yang berganti kostum saja. Dulu raja, sekarang direktur. Dulu balairung istana, sekarang ruang rapat. Yang berubah hanya bahasa dan budayanya, refleks manusianya sama, yaitu bertahan dengan menyenangkan pihak yang berkuasa. Ya, inilah sebuah bahaya laten! (Latent Hazard).
Kita Mengangguk, tapi Hati Kita Menolak
Inilah yang disebut budaya ‘basa-basi alias budaya semu’ yang justru kian menggerogoti tubuh bangsa, jika kita terus dan setia mau memelihara fenomena semu ini. Inilah yang disebut sebagai “Abilene Paradoks, oleh Jerry B. Harvey.
Setiap orang berusaha bersembunyi untuk menghindari konflik terbuka, dan berusaha pula untuk menghindarinya. Juga lebih transparan lagi, justru ketika orang tidak berani untuk ‘tampil beda.’ Akhirnya yang terdengar lantang dalam forum rapat kita ialah “paduan suara yang hanya seia sekata, setuju dan sependapat.” Inilah bahaya laten, “Yes-Man.”
Refleksi
- Lewat spirit tulisan ini, semoga hati kita tergugah dan bangkit demi menata kembali kehidupan beroraganisasi kita, agar dapat bertumbuh lebih sehat dan realistis.
- Tumbuhkan jiwa dan sikap patriotis sejati serta tidak jadi patuh semu laksana seekor burung beo.
“Honeste Vivere“
Hiduplah dengan jujur!
(Ulpianus)
…
Kediri, 13 Januari 2026

