Di Galilea, Yesus memberitakan, “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”
Pewartaan Yesus ini disambut baik oleh Simon dan saudaranya, Andreas. Karena mereka sedang menebar jala ikan di danau, lalu memutuskan untuk menanggapi panggilan Yesus untuk jadi penjala manusia. Begitu pula dengan Yakobus dan Yohanes yang rela meninggalkan perahu dan Ayah mereka, lalu pergi mengikuti Yesus.
Kerelaan Simon dan kawan-kawan untuk segera mengikuti Yesus tentu bukan tanpa dasar. Mereka menyaksikan dengan jelas ‘Kerajaan Allah’ dalam diri Yesus yang mengajak mereka. Kesediaan mereka untuk mengikuti-Nya merupakan bagian dari jalan pertobatan yang ingin mereka lalui, sebab dari awal Yesus menyerukan pertobatan. Jalan pertobatan itu mereka pilih terlebih dahulu dengan mendekatkan diri dengan Yesus, mengikuti-Nya dan menyebarkan kasih bagi setiap orang yang akan dilayani.
Dalam dinamika hidup ini, kita juga tentu memiliki kesadaran tersendiri untuk memilih jalan pertobatan. Para murid yang dipanggil itu menunjukkan kepada kita kesaksian, bahwa jadi pengikut Yesus yang siap sedia dan rela berkorban merupakan pilihan radikal dalam pertobatan. Kita mendekatkan diri dengan-Nya, lalu menanggalkan ego demi kebaikan sesama yang kita jumpai di rumah, Gereja dan di tengah masyarakat. Panggilan kita bermula dari pertobatan pribadi, dan kemudian berdaya transformatif bagi sesama yang kita layani.
“Ya, Tuhan, semoga panggilan hidup yang kami terima dari-Mu memampukan kami untuk jadi pentobat yang sejati. Amin.”
…
Ziarah Batin

