Berita dukacita yang mengejutkanku saat Romo YAM. Fridho Mulya SCJ dipanggil Tuhan tepat pukul 02:15.
Ini pesan Pater Propinsial yang mengejutkanku:
“Para konfrater,
Sekitar pukul 2.15 tadi (6-1-2026), Romo Sukadi menginformasikan berita duka yang amat mengejutkan, Romo YAM Fridho Mulya menghadap Bapa di Surga di Rumah Sakit Charitas Tegalrejo.
Kita bawa dalam doa. Informasi lebih lanjut menyusul. Requescat in pace.” Doa Bapa Kami, 3 Salam Maria, Kemuliaan terucap dari bibirku.
Hari ini istimewa, karena bagi Gereja Ortodok pada saat Epifani, dirayakan sebagai Hari Raya Natal. Sang Emmanuel lahir, Romo YAM Fridho Mulya dipanggil.

Kenangan bersama Romo Fridho begitu indah. Beliau mempunyai panggilan khusus untuk saya yaitu, ‘Cucung’. Alasan beliau memanggil saya seperti itu, karena saya waktu itu melanjutkan estafet kepemimpinan sebagai Rektor Seminari Menengah Santo Paulus Palembang. Beliau sendiri adalah Rektor Seminari yang sama ketika saya masuk di seminari ini. Saya pun memanggilnya dengan sebutan ‘Mbah’ di setiap perjumpaan.
Beliau adalah pribadi yang energik, kreatif, suka menyanyi, bersahabat, kebapakan, dan memiliki kemampuan ‘leadership’ yang baik. Beliau adalah pribadi yang sangat rapi dalam penampilannya. Apalagi, jika sudah memakai baju Pramuka lengkap, beliau tampak gagah. Beliau juga pribadi yang suka mengabadikan peristiwa-peristiwa yang ada di sekitarnya dengan membuat video di channel YouTubenya. Suaranya bisa didengarkan lewat RESI SCJ (Renungan Singkat). Beliau benar-benar memiliki hati seorang Gembala untuk melayani dengan cara apa pun dan tidak pernah merasa lelah di usianya yang sudah tidak muda lagi.
Dari tangannya, sering tercipta sebuah pantun yang indah, inspiratif, lucu, dan menggelitik. Tulisan tangan beliau juga sangat khas dan rapi.
Sosok beliau hadir dalam hidupku, tidak hanya sebagai konfraterku, tapi sebagai ‘Simbah’ yang selalu mendukung dan mengayomiku.
Berapa kali, beliau memanggilku untuk datang ke kantornya saat itu di Gedung Yayasan Xaverius untuk sekedar ngobrol ngalor-ngidul (Beliau saat itu jadi Ketua Yayasan Xaverius). Juga, kadang-kadang beliau tiba di kantorku di Seminari Menengah/ Santo Paulus Palembang. Biasanya beliau selalu berteriak, “Hi, Cucungku!”
Saat saya menjadi misionaris, beliau selalu berpesan dan itu mengesankan bagiku, “Di manapun Cucung berada, harus terus bersemangat, tetap ‘santoso’ (kuat) dan jangan mudah mengeluh.” Beliau mengapresiasiku, karena saya suka menulis. Beliau bilang, “Teruslah menulis dan berbagai refleksi. Tulisanmu dinantikan banyak orang.”
Terima kasih ya, ‘Simbahku’. Selamat jalan menuju ke Rumah Bapa. Selamat jalan menuju ke keabadian. RIP. Berkah Dalem.
…
Macau, 06 Januari 2026
Rm. Petrus Santoso SCJ – ‘Cucungmu’.


Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.