Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Non multa, sed multum”
(Plinius Muda)
Ungkapan “Non multa, sed multum,” “Bukan jumlah, tapi mutunya” itu dicetuskan oleh Plinius Muda (Gaius Plinius Caesilius Secundus, 61-113 M). Selengkapnya, ia berkata, “Multum legendum esse non multa.” Orang harus membedakan hal yang bermutu, dan bukan soal, jumlahnya. Dia, adalah seorang penulis, pengacara, dan pejabat Romawi.
Tahun 2025 ditutup dengan peningkatan Indeks Persepsi Korupsi Indonesia dari 34 menjadi 37. Pemerintah menyambut sebagai sinyal positif atas keberhasilan Strategi Nasional Pencegahan Korupsi atau (Stranas PK). Demikian sub judul dari judul, “Antara Ilusi dan Kenyataan,” oleh Tomi Subhan dalam kolom Surat kepada Redaksi, Kompas, Senin, (5/1/2026).
Ia sebetulnya mau membantahnya lewat argumennya, bahwa ‘Kenaikan Indeks Persepsi Korupsi (IPK), lebih banyak dipengaruhi oleh perubahan metodologi survei, bukan reformasi struktural. Sementara itu, kasus-kasus korupsi besar terus bermunculan. Korupsi di PT Pertamina dengan potensi kerugian Rp 285 triliun dan skandal pengadaan laptop pendidikan senilai Rp 2 triliun menunjukkan, bahwa korupsi masih merajalela di sektor strategis. Demikian pandangan Tomi Subhan.
Ia bahkan merasa prihatin melihat KPK yang terkesan kian tumpul pescarevisi UU KPK. Dijelaskannya, bahwa KPK bersikap lamban untuk kasus yang menyentuh lingkar kekuasaan. Dalam konteks ini, baginya, jika tanpa ada keberanian politik untuk memperkuat lembaga antikorupsi dan mempercepat reformasi hukum, pemberantasan korupsi hanya akan jadi rutinitas simbolis.
Di akhir tulisannya, beliau berharap memasuki tahun 2026 ini, kita berharap pemerintah tidak lagi menjadikan angka IPK sebagai suatu pencapaian. Yang kita butuhkan adalah sebuah perubahan nyata penegakan hukum yang adil, reformasi birokrasi yang menyeluruh, dan penanaman sikap integritas sejak dini. Tulisnya, jika tanpa itu, maka kita hanya akan menyaksikan kaleidoskop korupsi yang berputar di pola yang sama.
Dalam konteks ketajaman dan kecermatanan analisisnya, maka pantaslah kita mengacungkan jempol kepadanya. Ternyata masih ada juga figur yang sangat berani mau bersuara lantang di balik jutaan ekor burung beo yang serba ‘ABS’ dalam tubuh bangsa besar ini.
Refleksi
- Sampai kapan bangsa sebesar ini, baru akan ke luar dari kemelut ‘ketidakjujuran dan kemunafikannya?’ Apakah kita rela untuk menunggu hingga ‘kucing pun akan bertanduk?’
- Ternyata capaian IPK itu hanyalah sebuah gertak sambal yang sekadar mau meninabobokan alias hibur diri sesaat.
- Di balik fakta semu itu, sebagai warga dari sebuah bangsa besar, sejatinya kita sedang dibohongi lewat permainan angka yang tanpa memiliki spirit kesejatian.
- Jika memang terus demikian, maka kita sedang berada di ambang mulut jurang kehancuran masal.
Sungguh, dalam konteks ini, kita telah meninggalkan harkat kemanusiaan kita, sebagai makhluk ciptaan yang sungguh bermartabat mulia. Bukanlah kita telah diciptakan secitra dengan gambar Allah?
Kediri, 6 Januari 2026

