Halaman 5: Epifani hanya ilusi tanpa Empati.
Dalam konteks spiritual dan kemanusiaan di awal 2026 ini, Epifani (penemuan diri) memang tidak boleh berhenti pada kepuasan pribadi.
Tanpa empati, Epifani hanya seperti “gong yang nyaring bunyinya.” Indah didengar, tapi tidak mempunyai jiwa dan akan cepat berlalu. Empati memberi ‘bobot’, sehingga bisa menyentuh dan mengubah orang lain.
Di dunia yang semakin digital, Epifani makin tidak mudah dipahami. Tapi, saat orang sadar, bahwa melayani orang miskin, terasing, atau berduka adalah wujud perjumpaan dengan Tuhan. Seperti 3 Raja yang menjumpai bayi rentan di Palungan, maka sikap itu adalah Epifani.
Kita bisa menulis atau menemani orang muda atau siapa saja untuk menemukan bintang mereka.
Salam sehat.
Jlitheng

