1.
Ketika awan berarak menari gemulai
kusebut itu pesona putih gaun bidadari langit
Saat tabir hitam pekat menutupi langit
kuyakin itu jubah kemarahan penjahat angkasa
Waktu hujan mengucur deras membasahi mataku dan wajah bumi
kukatakan pasti angkasa menangis meratapi cakar kejam peradaban
Berbeda saat melintasi tingkat angkasa
melampaui awan, kabut pekat dan hujan deras
Apakah mataku salah membaca warna?
2.
Cahaya surya berlari lintasi hari
Gerimis bercanda dengan hembusan angin
Jemari jagat melukis busur warna-warni
dan ketika mata memandang menyebut itu pelangi
Sedangkan tangan tak mampu menangkap sosoknya
Langit hanya tersenyum mendengar kisah cerita
antara bola mata, rasa dan nalar pikiran
yang dirangkai dalam kata lukiskan pengalaman
Benarkah jagat bisa melukis dengan pesona warna-warni?
3.
Kreasi manusia ciptakan aneka sarana
Kamera berbagai jenis memotret wajah alam semesta
Entah pagi saat mentari datang berkelana
Entah siang ketika cahaya hasilkan bayangan diri
Entah senja bergegas pulang dirangkul samudra
Entah malam bintang-bintang menari
Entah saat bulan berinkarnasi aneka gaya
Entah gulita kelam dibelai kunang-kunang
Entah para ilmuwan menjaring aneka penghuni langit
Entah saat manusia berkelana ke bulan dan planet lainnya
Akankah seluruh ruang angkasa dijelajahi?
4.
Ada ribuan gambar dan jutaan rupa
yang diabadikan sebagai fakta
Entah dengan mata telanjang
Entah dengan semua sarana kecanggihan iptek
Manusia semakin yakin menyibak lukisan jagat
dan membuat aneka kesimpulan bagi kreasi dan imajinasi
Sedangkan angkasa dan segenap isinya masih tetap misteri
Keinginan memang tanpa batas berkreasi dan berimajinasi
Kemampuan mata dan pikiran tetap terbatas
Kecanggihan inovasi sarana iptek selalu tak sempurna
Manusia semakin tahu bahwa masih sedemikian isi langit yang misteri
dan tak habis disibak telanjang
dengan warna dan sosok rupanya
Benarkan kreasi nalar mencuci bersih rahasia isi ruang angkasa?

