Kita mulai dengan pertanyaan-pertanyaan ini: “Pernahkah hidup kita dipertanyakan atau dicurigai
oleh orang lain? Pernahkah kita membuat tidak nyaman atau iri orang lain? Atau pernahkah kita diinterogasi oleh orang lain?
Dalam Injil, Yohanes diinterogasi oleh beberapa Imam dan orang Lewi. Mereka datang dan bertanya kepadanya, “Siapakah kamu?” Yohanes dengan terus-terang menjawab, bahwa dia bukan Mesias.
Mereka membalas tanggapannya dengan meminta Yohanes memberi tahu kesejatian dirinya. Mereka bertanya, apakah dia itu Elia atau dia adalah “Dia yang akan datang…”
Yohanes dengan jelas mengatakan kepada mereka, bahwa peran dan misinya adalah menyiapkan jalan bagi Mesias. Meski para Imam itu tidak puas, tapi mereka terus membombardir Yohanes dengan banyak pertanyaan.
Yohanes menjawab dengan tegas dan menyatakan, bahwa dia adalah suara yang berseru-seru di padang gurun.
Apakah dari penjelasan itu mereka mengerti atau akan terus-menerus bertanya.
Apa makna dari suara di padang gurun itu?
Pesan dari suara itu adalah supaya mereka yang mendengarkan suara itu bertanggung jawab dengan hidupnya sendiri.
Kita juga diundang untuk melihat hidup sendiri, dan tidak untuk sibuk melihat atau banyak berpikir dan mengurusi hidup orang lain. Apakah hidup kita ini sudah benar?
Bisa jadi, orang yang dipertanyakan itu hidupnya sudah memiliki peran yang sesuai dengan tanggung jawabnya. Sedangkan kita…?! Ternyata selama ini kita sering mengecewakan banyak orang dan tidak bertanggung jawab dengan peran hidup sendiri…
Ketimbang sibuk mempertanyakan hidup orang lain, lebih bijak itu kita mempertanyakan hidup sendiri.
Saatnya kita menginterogasi diri sendiri untuk makin memperjelas dan mempertegas jalan dan tujuan kesejatian hidup ini!
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

