Yohanes menjawab mereka, katanya: “Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal” (Yoh 1: 26)
Seorang anak kecil sedang membantu ayahnya berjualan sayur. Suatu saat, seorang pembeli memuji anak ini karena kepiawaiannya dalam berjualan. Anak ini menjawab dengan rendah hati, “Ibu, terima kasih pujiannya. Saya hanya melakukan tugas saya sebagai anak, karena Tuhan yang menempatkan saya sebagai anak dari Bapak saya.”
Jika kita merenungkan lebih dalam peristiwa kecil ini, apakah saat kita dipuji, karena talenta yang kita miliki, kita ingat, bahwa kita hanyalah alat Tuhan atau kita merasa kita pantas menerima pujian itu?
Saat dilahirkan dan kematian itu tidak ada satu pun yang dibawa oleh manusia. Semua yang dimiiliki adalah karunia dan anugerah dari Tuhan semata.
Manusia ditempatkan oleh Tuhan sebagai biarawan/biarawati, pengusaha, asisten rumah tangga, atau petani… semua itu adalah untuk menggenapi rencana Tuhan yang indah. Apakah selama ini Anda senantiasa mencari kehendak Tuhan atau kehendak sendiri? Harapannya, kita selalu ingat, bahwa manusia hanyalah ‘keledai’ sebagai alat Tuhan dalam menggenapi rencana-Nya.
Marilah senantiasa kita berfokus pada kehendak Tuhan agar kita dapat mencapai kebahagiaan sejati dalam buah-buah Roh.
Sr. M. Priska, P. Karm
Jumat, 02 Januari 2026
1 Yoh 2: 22-28 Mzm 98: 1-4 Yoh 1: 19-28
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

