Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com – Komunitas kampung adat di Nusantara mempunyai sejarah yang unik dalam perjalanan peradaban. Ada kekhasan yang hidup dan dilestarikan, ada unsur budaya yang berkembang, berubah bahkan hilang.
Banyak alasan secara internal bisa ditelusuri di masing-masing komunitas adat budaya. Hal paling mendasar adalah sejauh mana warisan tradisi adat budaya itu dibutuhkan atau diperlukan dalam mengelola kehidupan di tengah dinamika zaman. Dalam relasi antar pribadi, komunitas, mengelola sumber daya alam, dan dalam relasi dengan aneka budaya di luar komunitas. Umumnya komunitas adat budaya di Nusantara ini berlatar tradisi lisan, sedangkan yang dari luar berlatar tradisi tulis. Ada juga komunitas adat budaya yang tinggal puing-puing kenangan.
Konteks komunitas adat budaya lokal, umumnya jauh dari pengaruh modernitas ilmu pengetahuan dan teknologi barat dan literasinya. Ketika dibuka jalan raya, masuk kendaraan bermotor, hadirnya listrik, dan segala sarana terkait, serta sekolah modern dan pemerintahan negara, maka adat budaya komunitas tradisi ikut berubah. Dalam fakta perubahan ini, saya menyebut sebagai “Revolusi Informasi” di komunitas kampung adat tradisi.
Revolusi informasi ini terjadi tanpa kompromi, karena tidak menunggu kesiapan komunitas kampung adat. Kendaraan bermotor masuk, karena ada jalan raya, membawa aneka informasi dari pengunjung di luar komunitas. Adanya listrik dengan semua sarana pengikutnya, (televisi, radio, dll), membanjiri komunitas dengan berbagai hal baru. Perlahan tapi pasti, semua aspek kehidupan bertabrakan dan harus dihadapi, suka atau tidak, siap atau tidak. Perubahan terjadi begitu cepat dan menggugat setiap saat untuk memilah dan memilih. Antara warisan tradisi dengan segala sistemnya dan pengaruh modernitas dengan segala pesonanya.
Masuk zaman digital milenial, sarana teknologi informasi makin canggih. Maka, dunia ada di genggaman tangan lewat gadget, membanjiri setiap individu dengan gelombang samudera informasi. Perkembangan IPTEK informasi digital bisa permenit, sedang kemampuan memilah dan mengelolanya bermacam ragam dalam diri invidu masyarakat kampung adat tradisi.
Ada fenomena, bahwa anggota komunitas kampung “kebingungan membuat keputusan”. Antara keharusan tradisi adat budaya dan gemerlap pesona kemudahan zaman digital milenial.
Dalam kebingungan dan keterasingan itu, ada banyak bentuk solusi instan untuk mempertahankan identitas dan memenuhi kebutuhan oleh masing-masing individu, karena kekuatan komunitas pun semakin kabur. Ke mana langkah komunitas kampung adat budaya tradisi, kembali kepada pemilik masing-masing untuk menjawab. Roda zaman terus berputar berubah dan berkembang.

