Surat Yohanes mengajak umat beriman untuk memeriksa kembali arah kasih dan keterikatan hidup kita. Penulis surat itu mengingatkan, bahwa Yesus Kristus telah mengampuni dosa-dosa manusia melalui ketaatan-Nya yang penuh kasih, bahkan sampai pada penderitaan dan kematian.
Pengorbanan itu bukanlah sesuatu yang biasa, melainkan tindakan penebusan yang mengubah relasi manusia dengan Allah. Kristus menanggung hukuman yang seharusnya jatuh atas manusia, agar mereka diperdamaikan dengan Bapa dan memperoleh hidup yang baru. Karena itu, hidup orang beriman itu tidak lagi berdiri di atas dasar keinginan duniawi, melainkan atas kasih kepada Allah, Sang Penyelamat.
Sebagai tanggapan atas kasih penebusan itu, Yohanes mengundang umat untuk memperkuat kasihnya kepada Tuhan, bukan kepada dunia dan segala yang ada di dalamnya. Dunia dalam pengertian surat ini bukanlah ciptaan Allah yang baik, melainkan sistem keinginan manusia yang egois dan menjauhkan hati dari Allah. Segala sesuatu yang berasal dari dunia: keinginan daging, mata, dan keangkuhan hidup itu tidak berasal dari Bapa. Ketika manusia membiarkan dirinya dikuasai oleh dorongan itu, ia akan kehilangan kasihnya kepada Tuhan.
Keinginan daging menunjuk pada dorongan yang memanjakan hawa nafsu dan kesenangan diri tanpa kendali. Keinginan mata adalah sikap batin yang mudah tertarik pada hal-hal lahiriah, kedudukan, dan kepemilikan, seolah-olah kebahagiaan diukur dari apa yang tampak. Sementara keangkuhan hidup mencerminkan kesombongan yang berakar pada rasa cukup atas diri sendiri, tanpa membutuhkan Allah. Padahal semuanya ini bersifat sementara dan akan berlalu, sebab dunia dengan segala keinginannya sedang menuju kebinasaan. Sebaliknya, mereka yang tinggal dalam kasih Allah akan hidup untuk selama-lamanya.
Kasih kepada Allah bukan sekadar perasaan religius, melainkan pilihan hidup yang nyata. Ia terwujud dalam ketaatan, kesetiaan, dan kesediaan menata kembali prioritas hidup sesuai kehendak Tuhan. Kasih itu memberi arah baru bagi cara manusia memandang penderitaan, pengorbanan, dan pelayanan.
Salah satu teladan iman yang indah ditampilkan oleh Nabi perempuan Hana dalam Injil Lukas. Setelah mengalami pengalaman hidup yang tidak mudah, ia memilih untuk menetap di Bait Allah, berdoa dan berpuasa siang malam. Hana tidak mencari penghiburan di dalam hal-hal duniawi, melainkan mempersembahkan hidupnya bagi Tuhan dalam kesetiaan dan pengharapan.
Ketika Yesus kecil dihadirkan di Bait Allah, Hana mampu mengenali karya keselamatan Allah dan memuji-Nya. Sikapnya itu menunjukkan, bahwa hati yang terarah kepada Tuhan akan peka terhadap kehadiran-Nya.
“Ya, Allah yang Maha Pemurah, murnikanlah pikiran dan hati kami dari semua keinginan dunia ini yang menjauhkan perhatian kami dari-Mu dan selamatkanlah kami dari segala pencobaan dunia ini. Amin.”
…
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

