“Nyanyikanlah bagi Tuhan lagu yang baru, sebab keselamatan-Nya telah dinyatakan!”
Injil mengantar kami masuk ke dalam misteri Yesus yang dipersembahkan di Bait Allah. Bait Allah adalah tempat kediaman kemuliaan-Nya, tempat perjumpaan antara Surga dan bumi. Namun karena dosa umat, kemuliaan-Nya pernah meninggalkan Bait Suci. Kerinduan Israel hidup: agar ibadat yang benar dipulihkan dan kemuliaan-Nya kembali hadir di tengah umat.
Kerinduan itu terpenuhi, ketika Maria dan Yosef membawa Kanak-kanak Yesus ke Bait Allah. Kemuliaan-Nya kembali hadir, bukan dalam kemegahan, melainkan dalam kerendahan dan kesederhanaan. Simeon, yang digerakkan oleh Roh Kudus, melihat yang tersembunyi bagi banyak mata: Terang sejati telah datang. Dalam gendongannya, umat manusia menyambut keselamatan.
Segala sesuatu dalam peristiwa ini terjadi oleh karya Roh Kudus yang menjanjikan kepada Simeon, bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Mesias. Roh Kudus yang menuntunnya masuk ke Bait Allah pada hari itu. Roh Kuduslah yang mengilhami kata-kata pujian, penyerahan diri, dan nubuat yang ke luar dari mulutnya. Apa yang tampak biasa ternyata adalah perjumpaan Ilahi yang mendalam.
Roh yang sama telah berkarya sejak awal misteri Inkarnasi: menaungi Maria pada saat Kabar Sukacita, membangkitkan sukacita dalam diri Elisabet pada saat Maria mengunjunginya, dan kini menyatakan Kristus kepada Simeon. Tak heran Gereja sepanjang abad merenungkan peristiwa-peristiwa ini dalam doa, sebab di sanalah kita belajar, bagaimana Allah bekerja secara lembut, setia, dan penuh kuasa melalui hati yang terbuka.
Maria berdiri di hadapan kami sebagai teladan sempurna ketaatan kepada Roh Kudus. Ia menerima sabda Allah dalam iman, termasuk nubuat yang menyakitkan: bahwa Putranya akan jadi tanda yang dibantah, dan bahwa sebilah pedang akan menembus jiwanya. Namun Maria tidak menolak. Ia kembali menyerahkan dirinya dan percaya, bahwa bahkan penderitaan pun, bila disatukan dengan kehendak-Nya adalah jadi jalan keselamatan.
Surat Pertama Santo Yohanes, mengingatkan kami, bahwa mengenal Allah berarti hidup dalam terang dan dalam kasih, seperti Kristus telah mengasihi kami. Roh Kudus yang menyatakan Yesus di Bait Allah, kini tinggal di dalam kami, menuntun kami kepada kebenaran, membentuk hati, dan mengajar kami untuk mengasihi. Pribadi yang hidup dalam kasih, tinggal dalam terang dan jadi saksi Terang itu bagi dunia.
Bapa, ajarlah kami bukan hanya mengenang kisah-kisah suci ini, melainkan juga menemukan kisah hidup kami di dalamnya. Semoga Roh Kudus terus menyatakan Kristus dalam keseharian kami. Jadikan kami pribadi yang peka, taat, dan rela dibimbing, agar hidup kami memancarkan terang dan harapan bagi sesama.
Tuhan Yesus, Engkau tidak meninggalkan kami sendirian. Engkau mengaruniakan Roh Kudus agar kami tetap tinggal di dalam Engkau, terutama ketika kami menyambut-Mu dalam perjamuan Ekaristi di rumah Bapa. Penuhilah kami dengan terang-Mu, supaya kami mampu mengasihi seperti Engkau mengasihi dan jadi pembawa terang di dunia. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

