Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Realitas alam semesta ini adalah ekspresi dari keagungan Sang Pencipta.”
(Didaktika Hidup Beriman)
“Amor Gignit Amorem”
“Cinta, sungguh akan melahirkan cinta” lagi. Itulah hukum kebaikan, itulah hukum kekekalan. Maka, marilah kita pun saling mencintai, seperti Allah telah mencintai kita!
Konsep Filosofis ‘Causa Prima’
Konsep filosofis ‘Causa Prima’ adalah cetusan dari filsuf dan teolog besar Thomas Aquinas (abad ke-13), bahwa Allah adalah, “Penyebab utama dari segala sesuatu yang kini hadir dan ada. Dari seluruh realitas yang ada ini.”
Konsep filosofis itu didasarkan pada argumen, bahwa setiap efek harus memiliki penyebab lain, dan seterusnya sampai kita mencapai penyebab pertama yang tidak disebabkan oleh apa pun. Allah sudah ada, dan ada, dari kekal hingga ke kekalan.
Konsep ini adalah salah satu dari ‘Lima Jalan’ (Quingue Viae) yang jadi senjata dari Thomas Aquinas untuk membuktikan eksistensi dari Allah.
Konsep “Eternalitas”
Sejalan dengan konsep Causa Prima, juga terdapat konsep ‘Eternalitas’. Adapun konsep ini mendeskripsikan tentang suatu keadaan yang tidak memiliki awal atau akhir, tidak memiliki batas waktu, dan tidak terpengaruh oleh sang waktu.
Maka, Konsep “Eternalitas” itu Merujuk pada:
- Sebuah keadaan yang tidak berawal dan tidak berakhir.
- Sebuah keadaan yang tidak terbatas oleh sang waktu.
- Sebuah keadaan yang tidak memiliki batas.
- Sebuah keadaan yang tidak berubah sepanjang masa.
Sejumlah Argumen Filosofis tentang Keberadaan Allah
- Argumen Kosmologis. Keberadaan alam semesta ini harus memiliki penyebab, dan penyebab itu adalah Allah sendiri. (Thomas Aquinas) ‘Quingue Viae’.
- Argumen Teleologis. Alam semesta ini sudah menunjuk pada disain dan tujuannya, bahwa alam ini tentu ada yang penciptakanya. (William Paley) “Argumen Jam.”
- Argumen Ontologis. Konsep tetang Allah sebagai makhluk yang paling sempurna memerlukan keadaan-Nya (Anselmus dari Canterbury).
- Pengalaman Personal. Terbukti dari tidak sedikit orang yang mengalami pengalaman spiritual (mistis), yang justru akan kian meyakinkan mereka akan eksistensi Allah.
- Alam dan Keindahan. Keindahan alam dengan seluruh kompleksitasnya, membuat orang akhirnya percaya akan adanya Sang Penciptanya.
Pandangan Filsuf Santo Agustinus tentang Keberadaan Allah
Santo Agustinus (354-430 M) memiliki sejumlah pandangan, antara lain:
- Inneabilitas: Keberadaan Allah tidak dibuktikan secara rasional, tetapi lewat pengalaman spiritual dan iman.
- Intuisi: Agustinus yakin, manusia memiliki intuisi tentang keberadaan Allah (fitrah) manusia.
- Kebenaran Ilahi: Kebenaran tentang Allah diketahui lewat wahyu dan inspirasi Ilahi.
Refleksi
Marilah kita berefleksi berdasarkan pandangan Santo Agustinus!
“Tuum est, Deus, Facere, Meum est Credere”
(Engkaulah, Allah yang membuat, dan aku yang percaya)
“Nisi Credidentis, non Intelligitis”
(Jika kamu tidak percaya, kamu pun tidak akan memahami)
…
Kediri, 28 Desember 2025

