Hari ini kita merayakan peringatan Santo Yohanes, Rasul dan Penginjil yang setia. Dalam Injil yang ditulisnya, kita menyaksikan, bagaimana Yohanes, murid yang Yesus kasihi itu jadi saksi kebangkitan Kristus.
Dalam Injil, kita mengikuti Yohanes dan Petrus saat mereka berlari menuju kubur Yesus. Setelah Maria Magdalena memberitahukan, bahwa kubur Yesus telah kosong, Yohanes dan Petrus bergegas untuk melihat dengan mata kepala sendiri. Yohanes, yang lebih muda, berlari lebih cepat dan tiba lebih dahulu di kubur. Namun, ia menunggu Petrus untuk masuk terlebih dahulu. Ketika Petrus masuk, Yohanes mengikutinya. Ketika melihat kain pembungkus Yesus, “Ia percaya.”
Apa yang membuat Yohanes percaya? Bukan hanya fakta, bahwa kubur itu kosong, melainkan juga tanda-tanda yang ditinggalkan Yesus. Ia melihat dengan mata hatinya, bahwa Yesus telah bangkit, sesuai dengan yang Ia katakan. Yohanes menunjukkan, bahwa iman yang sejati tidak hanya berdasarkan pada fakta, tapi juga pada jejak relasi personal akan kasih dan kehadiran Kristus. Iman kita diperkuat, ketika dari hari ke hari kita membiarkan diri kita dikasihi oleh Kristus, seperti yang dialami Yohanes.
“Tuhan Yesus, semoga kami mendapat tempat di hati-Mu seperti Yohanes, ketika kami datang kepada-Mu dalam doa-doa dan ucapan syukur. Amin.”
…
Ziarah Batin

