Pada hari ini kita merayakan pesta Santo Stefanus, seorang murid Yesus yang istimewa dan martir pertama Gereja. Dia salah satu para diakon yang terpilih untuk melayani urusan-urusan jasmani komunitas Gereja Perdana, sementara para Rasul fokus pada pelayanan sabda dan doa, seperti yang dikisahkan dalam Kisah Para Rasul.
Dengan suatu kenangan peristiwa kemartiran pada hari kedua setelah Natal ini, inspirasi yang pas buat kita ialah semangat hidup di dalam Roh Kudus. Misteri inkarnasi dapat kita masuki, memahami dan mengimaninya, karena bantuan Roh Kudus. Yesus Kristus yang terbaring sebagai bayi dalam palungan tahu jelas nasib-Nya nanti di puncak Golgota. Kandang Bethlehem dihubungkan dengan bukit Golgota, di mana jalan itu akan mulai dilalui oleh Yesus, Sang Juru Selamat.
Jadi kaitan kedua simbol tempat ini sebenarnya mengungkapkan alasan utama mengapa Putra Allah, Sabda kekal itu jadi manusia untuk menebus umat manusia dari perbudakan dosa dan kematian. Hasilnya ialah kehidupan baru dianugerahkan bagi semua pengikut Yesus Kristus yang adalah putra-putri Bapa. Yesus sedari awal hidupnya sudah memberikan pelajaran, dan Ia memastikan jalan hidup-Nya, bahwa jalan kepada Bapa ialah jalan salib.
Santo Stefanus sebagai yang pertama di dalam Gereja yang baru saja berdiri di Yerusalem pada waktu itu, menikmati salib itu. Jika kita semua memilih untuk berbagi di dalam kemuliaan Yesus Kristus, maka kita harus memanggul salib kita setiap hari dan mengikuti Kristus melewati jalan yang telah Ia lalui. Untuk memberikan semangat dan kekuatan kepada kita, Yesus terus terang berkata kepada para rasul, murid dan semua pengikut-Nya tentang risiko dalam pilihan mengikuti Dia. Ini semua jadi mungkin hanya di dalam terang dan bimbingan Roh Kudus.
Pesan Natal sebenarnya berisi risiko sebagai para pengikut Kristus itu. Yesus dari awal lahir-Nya memiliki risiko itu. Setiap orang yang dibaptis juga dibuat jelas tentang ini, bahwa risiko dan tujuan akhir dari mengambil bagian dalam Kristus hanya akan dicapai melalui salib. Kemuliaan dan kebahagiaan di dalam Kristus harus dibayar dahulu dengan suatu harga amat mahal, ialah pengorbanan diri dengan kematian, termasuk dalam cara mati demi Kristus seperti yang dialami Santo Stefanus.
Yesus berpesan, bahwa Ia telah memberikan rahmat yang memadai untuk setiap orang dalam memanggul salib dan membuat suatu pengorbanan dalam hidup demi mendapatkan kemuliaan bersama Dia. Jadi tidak akan ada salib, pengorbanan, dan penderitaan yang jelek atau hampa di dalam Kristus.
“Ya, Tuhan Yesus Kristus, kuatkan kami selalu dengan rahmat-Mu, supaya kami memanggul salib dengan gembira dan dalam pengharapan. Amin.”
…
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

