1.
Anganku terbang gelora berpacu
antara menangkap guyuran literasi hujan
dan derap roda kereta menggilas rel nafas
Kemarin aku telah mencatat seribu jejak
Sekarang coba kubaca dalam memoar
ada perjumpaan dan perpisahan
Ada harapan dan kenyataan
Ada suka duka dalam kisah cerita
Aku ada dalam gerbong
Kereta terus berlari bergelora
Hujan terus mengguyur kata
2.
Pada lembaran almanak nafasku
tak mampu berdusta pada diriku
tercatat rapi rindu damba
tertulis apik arti makna
tergores abadi pesona jiwa raga
Antara tonggak-tonggak waktu
yang tak mampu kutahan lajunya
Antara batas sekat ruang yang tak bisa diingkari adanya
Aku terus jadi apa dan siapa
dalam setiap keputusan yang kupilih
3.
Butiran hujan yang mengguyur
kisahkan sukacita pada harapan yang segar setelah gersang
ceritakan duka lara derita korban bencana
Dan
ada catatan getir teganya penjahat bertopeng
yang gundulkan hutan membabat pepohonan
yang mengoyak bumi menguras mineral minyak dan gas
yang agungkan kerakusan harta dan kuasa
yang tak peduli alam lestari serta nyawa sesama
Inikah panggung sandiwara dunia?
4.
Derap roda kereta
tegas ingatkan hati sanubari
tentang pastinya rute perjalanan
tentang keyakinan akan tepatnya tujuan
tentang kejujuran antara tulisan jadwal dan kenyataan
Aku hanya diam menyimak dalam tanya
Mengapa masih banyak yang bermain kata dan angka
untuk berbohong demi puaskan selera
untuk meraup nikmat untung dari bencana sesama
Mengapa ada dusta di antara manusia?
5.
Kilatan petir menyertai derasnya hujan
menyambar nalar dan kesadaran
Kucoba membaca halaman catatan jejak langkah
Aku tertunduk galau dan gentar
ketika saksikan aneka gelombang informasi di layar maya
Mengapa deretan berita korupsi dan kejahatan terjadi
untuk manipulasi data dan kuasa
untuk bersumpah janji palsu
untuk menghujat dan mengkhianati imannya
untuk terus bermain kata dan angka
Dinginnya ruang gerbong melerai penat
juga kantuk dan resah di cengkraman tanya
Tetapi aku yakin akan tiba
pada tujuan rindu damba
karena kereta pasti tidak berdusta

