Kata ‘inkarnasi’ tepat untuk menggambarkan misteri Putra Allah, yang adalah Sabda kekal di Surga, mengubah diri-Nya untuk mempunyai tubuh, yaitu manusia. Ia memakai cara manusiawi dengan lahir melalui pribadi seorang wanita di dunia. Sementara itu kata ‘reinkarnasi’ yang juga dikenal dalam pembicaraan kita, tidak punya kaitan apa pun dengan “inkarnasi”.
Bacaan Injil hari ini fokusnya pada Sabda Allah jadi manusia. Lalu pertanyaan untuk membuka ke inti renungan kita ialah: Mengapa perlu adanya Sabda Allah jadi manusia? Sama juga kalau seorang anak desa ditanya: Mengapa berusaha begitu keras untuk sekolah jauh di kota? Atau kepada seorang Bapak ditanya: Mengapa perlu bekerja keras siang sampai malam dengan banyak sekali pengorbanan? Semua pertanyaan ini menemukan satu jawaban yang umum, yaitu karena ada keinginan atau kehendak yang dilakukan.
Jadi Allah yang kekal berubah jadi manusia, karena ada suatu keinginan, kemauan atau kehendak Allah. Dibandingkan dengan keinginan kita manusia yang jumlahnya banyak, atau mungkin tumpang tindih, bahkan cenderung tidak fokus, kehendak Tuhan Allah hanya satu bagi manusia. Di dalam Surga dan dalam kehidupan Ilahi Tritunggal Maha Kudus, tak ada keinginan, karena mereka sudah penuh dan abadi. Tuhan mempunyai keinginan, karena berurusan dengan manusia. Keinginan Tuhan yang satu itu ialah menyelamatkan manusia dari kedosaannya yang berakibat pada rusaknya hubungan Tuhan dengan manusia.
Sabda Allah kekal yang jadi manusia itu adalah penebus yang dibutuhkan oleh manusia. Inkarnasi pertemukan itu jadi sebuah perpaduan serasi dan itu semua, karena kekuatan Roh Kudus. Ini sama dengan seorang lelaki ingin menyatakan cinta kepada wanita pujaannya dan wanita itu juga membutuhkan kasih laki-laki pilihannya. Inkarnasi mengawinkan langit dan bumi sebagai simbol perkawinan antara Allah pencipta dan manusia ciptaan-Nya. Inkarnasi jadi pintu untuk Tuhan Allah masuk ke dalam sejarah kita manusia dan mengambil bagian utuh dalam kehidupan nyata manusia.
Peristiwa ini meski tetaplah sebagai misteri, karena kejadian Sabda Allah kekal jadi manusia itu, tapi merupakan kenyataan pada lebih 2000 tahun yang lalu. Tadi malam kita rayakan ulang tahun kelahiran-Nya dalam rupa bayi Yesus terbaring di dalam palungan. Pada hari ini kita rayakan kehadiran-Nya yang dikelilingi orang-orang pilihan Allah untuk mewujudkan terjadinya peristiwa inkarnasi ini. Mereka semua adalah saksi, sehingga misteri besar ini diceritakan, disebarkan, dan dirayakan sampai saat ini. Selain percaya dan merayakan misteri iman ini, kita hendaknya menghidupi Sabda itu di dalam hidup nyata.
“Ya, Tuhan Yesus Kristus, berkatilah kami supaya kami menghidupi selalu dengan semangat Sabda-Mu dalam setiap saat hidup kami. Amin.”
…
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

