Kisah kelahiran Yohanes Pembaptis dalam Injil Lukas membawa kita pada sebuah peristiwa yang menakjubkan dan sarat makna iman. Orang-orang di sekitar Elisabet beranggapan, bahwa anak itu seharusnya dinamai menurut nama ayahnya atau kerabatnya. Kebudayaan jadi standar yang dipakai untuk pemberian nama.
Itu adalah kebiasaan yang wajar, tanda kesinambungan keluarga dan tradisi. Tapi Elisabet berdiri teguh dan berkata, “Namanya Yohanes.” Elisabet berpendirian yang melampaui budaya dan tradisi. Iman kepada Allah lebih mengusasi dirinya dan keluarganya. Ketika Zakaria pun menuliskan hal yang sama pada batu tulis, terungkaplah, bahwa yang sedang terjadi bukan sekadar pilihan nama, melainkan ketaatan pada kehendak Allah. Zakaria kemudian pulih dari kebisuannya.
Yohanes berasal dari bahasa Ibrani Yohanan, yang berarti “Tuhan berbelaskasih” atau “Tuhan berkenan.” Dengan nama ini, Allah menyatakan sejak awal, bahwa hidup Yohanes bukan miliknya sendiri, bukan pula sekadar kelanjutan garis keturunan manusia, melainkan tanda kasih dan rahmat Allah bagi umat-Nya. Yohanes lahir sebagai wujud campur tangan Allah yang penuh belas kasih, terutama bagi Elisabet dan Zakaria yang telah lama menantikan seorang anak.
Sikap Elisabet dan Zakaria mengajak kita untuk merenung: beranikah kita melepaskan kebiasaan, harapan, atau rencana pribadi demi menaati kehendak Tuhan? Dalam kisah ini, iman bukan hanya diungkapkan lewat doa, tapi lewat ketaatan yang konkret. Menamai anak itu Yohanes berarti mengakui, bahwa Allah lebih tahu, lebih berdaulat, dan lebih berbelas kasih daripada logika manusia.
Kelahiran Yohanes sendiri adalah sebuah keajaiban. Namun Injil dengan jelas menunjukkan, bahwa keajaiban ini bukanlah tujuan akhir. Yohanes lahir untuk mempersiapkan jalan, membuka hati, dan membangunkan kesadaran umat agar siap menyambut karya Allah yang lebih besar. Hidup Yohanes sejak awal sudah diarahkan ke luar dari dirinya sendiri, menuju Dia yang akan datang sesudahnya.
Di sinilah makna iman bagi kita sebagai pengikut Kristus semakin diperdalam. Kita diajak untuk menyadari, bahwa hidup kita memiliki tujuan yang melampaui diri sendiri. Seperti Yohanes, kita dipanggil untuk jadi penunjuk jalan, saksi kasih Allah, dan pembuka hati bagi kehadiran Tuhan dalam dunia. Hidup beriman berarti rela jadi sarana, bukan pusat.
Sejatinya, keajaiban kelahiran Yohanes itu mempersiapkan kita untuk menyambut keajaiban yang jauh lebih besar: kelahiran Yesus Kristus, Sang Juru Selamat. Yohanes mengingatkan kita, bahwa Allah yang berbelas kasih setia menepati janji-Nya.
“Ya, Tuhan yang Maha Baik, jadikanlah kami abdi-abdi-Mu untuk mewartakan kedatangan Yesus Kristus guna memperkuat dan membebaskan manusia dari semua halangan yang menyesatkan mereka di jalan menuju kepada-Mu. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

