Wahai Mama dan para Ibu
Aku juga teringat akan dirimu
karena ada perayan Hari Ibu
Padahal…
dalam keseharian rutinitasku
sering terlupa peran dan jasamu
dalam seluruh langkah nafasku
Mama,
Engkau tidak mengatur sosok hadirku dalam adamu
Engkau pun tidak meminta jadi Ibuku
Tetapi nyata ada dan terjadi
sebuah misteri abadi tak bertepi
Selamat Hari Ibu, Mama
Inilah serpihan sadarku
dan sehelai terima kasihku bagimu
Kucoba melukis sosok pribadimu
dan abdi kasihmu, Ibu
Wahai, Mama dan para Ibu
Hormat dan terima kasih padamu sekalian
Kalian adalah samudra dan angkasa
Terima segala dari kami putra-putrimu
dalam misteri alam semesta
tanpa gugatan dan tanya
meski sahabatmu lara derita
Kami ucapkan selamat
saat kalian diterjang bencana dasyat tanpa akhir
Padahal kalian tak sebabkan masalah
setia mengandung dan menyusui fakta
Kalian terpaksa tertawa bangga
ketika penuh lumpur dijejali bangkai peradaban
Segala bentuk khilaf salah dosa generasi
tak pernah dihapus dan diingkari
wahai, Ibu-ibu tercinta
Kalian itu debu tanah bumi
hanya dibelai mentari siang malam
Merangkul suka duka lara
Meramu senyum dan air mata
Sebagai senandung lagu nafasmu
Wahai, para Ibu hebat
kalian tak meminta, tetapi terjadi
Untuk menyusui misteri tanpa tepi
dalam jejak kaki dan gerak jemari
sebagai mempelai misteri Sang Ilahi
hingga akhir nafas dan kembali
Wahai, para Ibu luar biasa
kalian nyata sungguh ada
Untuk menulis jawaban pada lembaran hari abadi
Meski tak pernah memilih dan mengerti
mengapa terlahir perempuan dan jadi Ibu
Wahai, Mama dan para Ibu
Salam hormat dan terima kasih
meski tak pernah sebanding arti
dengan abdi dan saktimu
Inilah garis warna lukisanku

