Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Non scholae discimus, sed vitae”
(Kita belajar tidak untuk sekolah, tapi untuk hidup)
(Seneca)
Seneca, yang hidup pada abad ke-1 Masehi berpendapat, bahwa tujuan pendidikan itu bukan hanya untuk mendapatkan pengetahuan atau gelar, melainkan justru lebih untuk mempersiapkan generasi muda kita demi menghadapi realitas kehidupan ini.
Dia sangat mencita-citakan model pendidikan yang fokus pada pengembangan karakter dan kemampuan praktis para anak bangsa, dan bukan pada pengetahuan teoritis akademis.
Bagaimanakah Konsentrasi dan Arah dari Pengembangan Pendidikan Kita di Negeri ini?
Pendidikan adalah fondasi utama dalam membentuk generasi penerus yang cerdas dan kompeten. Indonesia, dengan Visi besar untuk menciptakan generasi emas pada 2045, perlu menyesuaikan sistem pendidikannya agar lebih kompetitif. Demikian isi paragraf pertama tulisan Diah Hayu Novita Sari dalam kolom Surat kepada Pembaca, Kompas, Senin (22/12/2025), berjudul, “Menatap Masa Depan Pendidikan.”
Tiga Negara dengan Kurikulum Unggul
Dian Hayu Novita Sari berpendapat, meskipun kita memiliki kurikulum ‘merdeka belajar’, tapi masih perlu diperkuat dengan penerapan pembelajaran yang lebih bersifat konsisten. Dengan menetapkan prinsip-prinsip pendidikan seperti yang diterapkan di Jepang, Singapura, dan Finlandia, maka cita-cita mewujudkan generasi emas yang siap bersaing di tingkat global itu dapat dicapai juga oleh generasi muda kita.
Selanjutnya ia berpendapat, bahwa dengan menerapkan model kurikulum unggul, seperti yang dipraktikkan di Jepang, Singapura, dan Finlandia, generasi muda kita dapat mewujudkan tujuan pendidikan yang sangat ideal.
Dikatakannya pula, seperti di Jepang yang menekankan pada pola pengembangan karakter dan nilai-nilai sosial yang dapat menghasilkan out put yang memiliki sikap bertanggung jawab.
Di Singapura, yang mementingkan sistem ‘deep learning’, yang berfokus pada penguasaan konsep yang dapat diterapkan di dunia nyata. Sehingga para out put ‘tamatan’ sebagai hasil dari proses pendidikan. Untuk itu, mereka sangat mementingkan agar para siswa untuk berpikir analitis.
Sedangkan di Finlandia, menerapkan model pendidikan melalui pendekatan yang holistik dengan menekankan pada pentingnya pengembangan individu siswa. Untuk meraih tujuan itu, maka para guru di sana diberikan kesempatan untuk merancang kurikulum sesuai kebutuhan siswa.
Refleksi
Mengapa Pendidikan Kita Masih terus Terseok-seok?
Ke manakah sesungguhnya, arah dan sistem pendidikan kita? Nyatanya, bahwa di negeri ini, kita telah menerapkan berbagai kurikulum. Antara lain,
- Di masa Orde Lama, kurikulum 1947, 1952, dan 1964.
- Di masa Orde Baru, kurikulum 1968,1975,1984, dan 1994.
- Sedangkan di masa Reformasi, kurikulum 2004, KTSP, 2013, dan 2021.
- Kini (2025), kurikulum merdeka.
Namun, apa hasilnya? Sejujurnya, bahwa hingga kini menjelang 100 tahun Indonesia emas, (2045), nyatanya kita masih terseok-seok juga. Mengapa dan ada apa sebetulnya di balik semua realitas konyol ini?
Hal inilah yang jadi PR terbesar bagi bangsa besar ini untuk direfleksikan!
“Tempora Mutantur et Nos Mutamur in Ilis”
“Waktu berubah dan kita pun turut berubah karenanya”
(Ovidius)
Kediri, 22 Desember 2025

