Ada sekelompok mahasiswa berdiskusi mengenai tempat untuk bakti sosial sebagai suatu bentuk aksi Natal dan Tahun Baru. Mereka juga mempertimbangkan orang-orang yang jadi sasaran pelayanan mereka. Semua kepentingan pribadi dihindari, sehingga keputusan yang diambil benar-benar bagi kebutuhan orang banyak.
Ada seorang anak kelas 5 SD mengeluarkan semua tabungannya selama satu tahun. Tabungan itu adalah hasil kumpulan uang jajan dan hadiah yang ia terima dan tidak dipakai. Ia belanjakan semua uang tabungan itu dalam bentuk kado-kado Natal dan Tahun Baru, lalu diberikan kepada panti asuhan yang ada di dekat rumahnya, sebuah panti dengan payung agama yang berbeda dari agamanya Katolik. Ia jadi puas dan bahagia, karena telah berbuat kasih bagi orang lain.
Dua cerita nyata di atas merupakan contoh refleksi tentang pengosongan diri. Istilah yang lebih teologis sering disebut sebagai inkarnasi. Sebenarnya alasan sebuah pengosongan diri ialah demi kepentingan yang lebih besar. Logikanya ialah begini: kepentingan pribadi atau yang lebih kecil harus dikorbankan, karena ada kepentingan lain yang lebih besar untuk dipenuhi. Di dalam pemenuhan kepentingan yang lebih besar itu, sesungguhnya kepentingan pribadi juga mendapatkan keuntungannya.
Pengosongan diri sesungguhnya ialah, oleh Tuhan dengan meninggalkan tempat-Nya di Surga dan jadi manusia. Kalau Tuhan mementingkan diri-Nya sendiri, sebaiknya Ia tinggal di Surga dan tidak perlu datang ke dunia. Tapi Ia sesungguhnya datang demi kepentingan yang lebih besar, ialah keselamatan kita semua.
Raja Ahas di sangat memahami kebenaran pengosongan diri ini. Oleh karena itu ia menolak meminta sesuatu yang spesial diberikan kepadanya oleh Tuhan. Ia membiarkan Tuhan saja yang menyatakan kehendak-Nya, yaitu demi kepentingan yang lebih besar.
Kepentingan itu ialah Yesus yang lahir ke dalam dunia untuk keselamatan seluruh dunia dan segenap umat manusia. Ia memang disebut oleh Kitab Suci sebagai keturunan Daud, tapi bukan milik Daud dan segenap keluarganya. Ia adalah Allah untuk semua orang dan segenap ciptaan.
Yosef yang bertunangan dengan Maria juga mengorbankan kepentingan dirinya sendiri, yaitu rasa malu, gengsi, dan marah. Ia ingin menceraikan saja Maria. Tapi karena kepentingan yang lebih besar, yaitu kehendak Tuhan, ia turuti dan ia bahagia dengan sikapnya itu.
Sesungguhnya, dengan menuruti kehendak Tuhan, kita berbuat untuk kepentingan yang lebih besar.
“Ya Tuhan, semoga perayaan hari Minggu ini melengkapi sukacita kami untuk hari raya Natal yang sebentar lain kami rayakan. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

