“Sesungguhnya, seorang perawan akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan Ia akan dinamai Imanuel.”
Allah berbicara kepada kami melalui sebuah tanda yang tidak diberikan kepada orang sombong, tapi kepada yang rendah hati: “Seorang perawan akan mengandung dan melahirkan seorang anak.” Melalui Nabi Yesaya, Allah menyatakan diri-Nya sebagai Allah yang bertindak melampaui perhitungan manusia, menghadirkan Imanuel: Allah beserta kita sebagai janji keselamatan-Nya yang pasti. Janji ini menemukan kepenuhannya dalam diri Perawan Maria, yang hidupnya jadi tempat kehendak-Nya bersemayam.
Dalam Injil, Lukas memperkenalkan Maria sebagai seorang perawan yang bertunangan dengan Yusuf, dari keturunan Daud. Melalui ketaatan yang sunyi dan tersembunyi ini, perjanjian-Nya yang sejak dahulu kala, digenapi dengan setia. Apa yang tidak dapat dicapai oleh para raja dan tidak dapat diraih oleh kekuatan tentara, Allah genapi melalui persetujuan rendah hati seorang perempuan muda yang hatinya sepenuhnya milik-Nya.
Kami merenungkan keterkejutan suci Maria saat mendengar salam Malaikat: “Salam, hai engkau yang penuh rahmat.” Kata-kata ini mengguncangnya, bukan karena memuji dirinya, melainkan karena menyingkapkan misteri yang jauh melampaui dirinya. Seperti yang diserukan Pemazmur hari ini, Maria memiliki “tangan yang bersih dan hati yang murni.” Jiwa yang tidak dikuasai oleh kesombongan atau tipu daya, siap menerima berkat dari Tuhan dan pembenaran dari Allah penyelamatnya.
Ketika Gabriel berkata, “Jangan takut,” Allah mengundang Maria untuk naik ke ‘gunung iman’ yang digambarkan dalam Mazmur: untuk berdiri di tempat kudus-Nya, bukan karena kekuatannya sendiri, melainkan karena kepercayaannya pada firman-Nya. Pertanyaan Maria, “Bagaimana hal itu mungkin?” bukanlah penolakan, melainkan keterbukaan yang penuh hormat. Ia tidak menuntut bukti, tapi mencari pengertian agar dapat taat dalam kebenaran.
Oleh kuasa Roh Kudus, Allah menaunginya, dan Imanuel mengambil rupa manusia dalam rahimnya. Dalam diri Maria, kami melihat, bahwa kemenangan-Nya tidak datang lewat penguasaan, melainkan melalui penyerahan diri; bukan melalui kekuatan, melainkan melalui iman. Kalimat Fiat-nya:“Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataan-Mu” adalah membuka pintu tempat keselamatan masuk ke dalam dunia.
Melalui Maria, Allah mengajarkan kepada kami jalan kerendahan hati: percaya meski belum sepenuhnya melihat, menyetujui kehendak-Nya, meski jalan terasa tidak pasti, dan yakin, bahwa Ia setia pada janji-janji-Nya. Sebagaimana Maria mengandung Kristus di dalam dirinya, demikian pula Allah memanggil kami untuk jadi tabernakel yang hidup: hati yang dimurnikan oleh rahmat, dan hidup yang selaras dengan kehendak-Nya.
Hari ini kami mohon rahmat agar kami berpegang teguh pada kehendak-Nya seperti Maria. Tahirkanlah hati kami, teguhkan iman kami, dan layakkanlah kami menyambut Raja kemuliaan. Biarlah Imanuel berdiam di dalam kami dan, melalui hidup kami, dikenal oleh dunia. Bersama Maria, kami berdoa dengan penuh iman dan damai: “Jadilah padaku menurut perkataanMu.” Demi Kristus, Tuhan kami. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

