Kita diundang Gereja untuk belajar dari Yusuf, lelaki sederhana dan biasa, tapi dengan iman yang luar biasa. Kita merenungkan momen krisis dalam hidup Yusuf. Dia bertunangan dengan Maria. Sebelum mereka hidup bersama, Maria ditemukan telah mengandung. Menurut hukum dan tradisi, dia memiliki hak untuk membatalkan pernikahan itu, bahkan dengan cara yang bisa sangat memalukan bagi Maria. Tapi Ia memilih cara yang penuh belas kasih, yakni dengan berencana memutuskan pertunangan itu secara diam-diam.
Yusuf mendengarkan Allah. Pesan yang disampaikan kepadanya melalui Malaikat dalam mimpi ia taati. Meskipun menghadapi ketakutan, ketidakpastian, dan bahkan kemungkinan penghakiman dari masyarakat, dia memilih untuk mendengarkan dan mematuhi Allah. Ia melepaskan egonya sebagai laki-laki di tengah godaan amat besar untuk menghukum. Ketaatan Yusuf ini mengarahkan pada pemenuhan nubuat tentang kedatangan Mesias.
Ketaatan Yusuf mengajak kita untuk merenungkan, bagaimana kita sendiri menanggapi panggilan Tuhan dalam hidup kita, terutama ketika kepala dan kehendak kita sudah terlanjur penuh dengan gagasan dan rancangan yang jauh dari undangan dan ajakan-Nya.
Apakah kita siap untuk mengikuti jejak Yusuf, memegang erat iman kita, memercayai rencana besar Allah dan melepas ego kita?
“Tuhan, berilah kami hati yang sederhana, yang siap menerima dan melaksanakan kehendak-Mu, terutama ketika kehendak kami berkata lain. Amin.”
Ziarah Batin

