Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Dialah Pengasih dan Penyayang kepada semua insan.
(Didaktika Kemurahan Hati)
Deus Caritas est
“Allah adalah Kasih,” demikian sebuah kesaksian dari salah seorang murid Yesus. Betapa Rasul Yohanes pun mampu menangkap sinyal ketulusan dan kasih lewat seluruh gerak hidup Sang Guru, Yesus Kristus. Rasul Yohanes itu yang mengungkapkan statemen bermakna itu.
Ampunan Allah
Di suatu hari yang panas, seorang pelacur melihat seekor anjing terkulai lemah di pinggir sumur. Lidahnya menjulur ke depan, nafasnya melemah, matanya sayup menatap. Jelaslah, bahwa anjing yang terbaring tanpa daya di tepi sumber air ini akan mati kehausan.
Pelacur itu dengan serta-merta melepas sepatunya dan menimba air dengannya. Kemudian dengan penuh kasih sayang ia memberi minum anjing yang hampir mati kehausan itu. Atas perbuatannya itu, sang pelacur mendapat ampunan Allah.
“Dialah yang Maha Besar lagi Maha Pengampun. Bagi-Nya tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni, kecuali menafikan-Nya.”
(Berguru pada Saru)
Gambaran tentang Allah
Apa gambaran hati Anda tentang Allah? Apakah Dia seorang hakim yang kejam lalim? Ataukah seorang Pemimpin yang keras dan kejam? Ataukah Dia justru berhati lembut, layaknya seorang Bapak yang hati-Nya penuh belas kasih?
Hal ini seketika mengingatkan saya pada guyonan nyentrik ala Gus Dur, bahwa “Yang paling dekat dengan Tuhan itu justru orang Kristen, karena memanggil Allah dengan sebutan Bapak. Yang kedua, orang Hindu, karena memanggil Allah, dengan sebutan Om. Sedang yang paling jauh itu justru orang Islam, karena memanggil Allah saja, harus menggunakan toa.”
Tidak dapat diragukan lagi, bahwa Allah itu adalah Bapak yang Maha Kasih. Ingatkah kita pada kisah “Anak yang hilang, alias Bapak yang Murah Hati?
Allah yang Mengampuni dan Mendandani sang Pendosa
Sebuah Kisah bermakna hal “Anak yang hilang.” Di suatu hari, anak itu pun kembali pulang ke rumah Bapaknya atas kesadarannya sendiri.
Ternyata, setiap saat Sang Bapak ini malah selalu menantikan kembalinya anak ini.
Ketika anak itu benar-benar kembali, apa yang dibuat-Nya? Dia mengadakan sebuah pesta meriah.
Segera dipotongnya seekor domba tambun, diberikan-Nya seutas jubah indah meliliti tubuhnya, sebentuk cincin indah melingkar di jari manisnya, dan sepasang sepatu baru di kakinya.
“Mari kita berpesta, karena Anak ini telah hilang dan didapat kembali. Ia telah mati dan hidup kembali,” kata-Nya
Sungguh, itulah sifat mulia Allah. Dialah Sang Pengasih, Penyayang, dan Sang Pengampun yang Maha Rahim.
Refleksi
Siapakah sang pelacur itu?
- Dia adalah seorang manusia sejati, karena memiliki sekeping hati yang lembut, tulus, dan berbelas kasih.
- Dia pun segera diampuni Allah, karena sikap belas kasihnya kepada makhluk ciptaan Allah.
“Semoga, sekalipun kita ini hanyalah manusia yang lemah, tapi Allah akan mengampuni kita, karena kita sanggup berbelas kasih kepada makhluk ciptaan-Nya.”
“Amor Omnia Vincit”
“Cinta pun mengalahkan segalanya!”
(Vergilius)
Kediri, 17 Desember 2025

