Ada dua orang muda yang sedang berpacaran menghadapi satu persoalan dan harus diselesaikan bersama-sama. Persoalan itu ialah keraguan. Pemuda itu dikenal sebagai pekerja keras, bertanggung jawab dan mau berkorban. Tapi kelemahan utamanya ialah rasa ragunya yang berlebihan. Pacarnya jadi prihatin.
Banyak sekali keputusannya dibuat, karena sangat didesak oleh sebab, kalau tidak demikian hanya ada kebingungan dan ketidakpastian. Tapi cinta mereka berdua tetap terjalin. Si pemudi berusaha untuk mengimbangi, paling kurang ikut mendorong dan mengingatkan supaya keraguan si pemuda sedikit demi sedikit hilang, dan tumbuh rasa percaya diri yang didasarkan pada keyakinan.
Mereka berdua tidak sampai berpikir, bahwa pacaran dan cinta yang makin terjalin kuat itu akan gagal hanya karena faktor keraguan ada di satu pihak. Keraguan memang lebih condong kepada ketidakpastian di dalam membuat keputusan dan melakukan suatu tindakan, tapi kelemahan itu dapat diatasi, karena mereka berdua menyadarinya dan bekerja sama untuk mengatasi.
Hal yang ditakuti akan terjadi ialah, kalau seseorang peragu itu berubah jadi seorang yang tidak percayaan. Suatu ketidakpercayaan adalah suatu sikap yang sudah melewati batas rasa bingung atau tidak pasti, dan jadi sebuah sikap yang tetap secara negatif atau bertentangan dengan percaya. Orang yang tidak percaya itu sudah mencapai tingkat sempurna dari sifat peragu, bingung, curiga dan prasangka. Tidak percaya berarti tidak setuju, menolak, dan melawan.
Kejadian dengan Bileam, seorang Nabi Baal orang-orang Kanaan yang diminta oleh para penguasa suku-suku setempat untuk bernubuat melawan kaum Israel yang sedang memasuki Kanaan, merupakan suatu contoh melawan keraguan. Roh Tuhan datang menghilangkan keraguan itu, dan Bileam justru berpihak kepada orang-orang Israel, pilihan Allah. Kepercayaan Bileam justru sangat berlawanan dengan orang-orang Kanaan dan para penguasa mereka.
Para pemuka Yahudi menumpukkan keraguan yang besar, dengan mempertanyakan kuasa yang dipakai oleh Yesus Kristus. Kita semua tahu, bahwa keraguan itu ternyata jadi sempurna dalam sikap tidak percaya mereka. Juga mereka ragu terhadap Yohanes Pembaptis dan akhirnya tidak percaya juga kepadanya. Puncaknya ialah baik Yohanes Pembaptis maupun Yesus dibunuh. Mereka sama sekali tidak percaya dengan kebenaran dari Tuhan.
Dalam masa Adven ini, hendaknya tidak ada keraguan di hati kita tentang kedatangan Tuhan kepada diri sendiri dan keluarga kita.
Semoga kami makin diteguhkan dalam iman dan pengharapan akan kedatangan Tuhan Yesus.
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

