“Kebenaran harus diungkap, meski kenyataannya itu pahit.” -Mas Redjo
Belajar untuk meneladani Yohanes Pembaptis, kita diajak untuk makin merunduk dan merendahkan diri serendah-rendahnya agar orang lain tidak bisa merendahkan kita lagi.
Pengalaman itu terjadi, ketika saya menagih teman yang berhutang barang. Tidak dibayar, sebaliknya saya didampratnya sebagai orang yang tidak tahu diri. Karena usaha saya berkembang maju itu atas jasanya membantu memasarkan dagangan saya. Faktanya, uang itu digunakan teman untuk mencicil rumah! Hubungan lalu diputus dan hp saya diblokirnya!
Bagi saya, orang yang berhutang itu wajib diingatkan. Jika mereka tidak membayar, tapi uangnya digunakan untuk kebutuhan konsumtif berarti itu karakter yang sulit diperbaiki. “Sakit batuk itu dapat diobati, tapi watak seseorang?”
Saya tidak peduli, ketika teman itu tega menjelek-jelekkan, bahkan memutar-balikkan faktanya di luaran. Kebenaran itu tidak dapat dibungkam dan dipasung, karena bakal menemukan jalan keluarnya.
Ketimbang menyimpan ganjelan di hati atau mendendam, lebih bijak saya medoakannya yang baik, dan mengikhlaskannya.
Teladan Yohanes Pemandi itu tidak hanya meneguhkan hati, tapi juga menginspirasi saya untuk melepas beban pikiran dan hati ini tanpa merasa kehilangan. Ikhlas.
Buktinya, ketika banyak orang jahat
dan curang itu seakan rezeki atau usahanya dilancarkan dan sukses itu tidak membuat saya marah, iri hati, dan benci, tapi mengasihinya. Kita tidak boleh membenci orang itu, tapi perbuatan jahatnya!
Saya ainul yakin dengan nasihat Nabi Daud, bahwa kebahagiaan orang fasik itu semu (Mazm 37: 1). Mereka akan segera lenyap seperti rumput, sedangkan orang jujur dan benar akan menikmati berkat Tuhan.
Mas Redjo

