Di Bait Allah para pemimpin agama mempertanyakan otoritas Yesus, “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu?” Pertanyaan mereka tidak murni didorong oleh keinginan untuk mengerti, tapi semata-mata untuk menjebak-Nya.
Yesus menjawab tantangan mereka dengan pertanyaan yang merujuk pada pembaptisan Yohanes, “Apakah itu dari Surga atau dari manusia?”
Para pemimpin agama itu terjebak dalam dilema mereka sendiri. Jika mereka mengatakan ‘dari Surga’, mereka harus mengakui ketidakpercayaan mereka terhadap Yohanes. Sebaliknya, jika mereka mengatakan ‘dari manusia’, mereka akan dihadapkan pada kemarahan rakyat yang percaya, bahwa Yohanes adalah Nabi. Karena itu, mereka memilih untuk menjawab, “Kami tidak tahu.”
Kisah ini bukan sekadar kisah tentang cara jitu dan cerdas untuk menghindar dari jebakan lawan bicara. Lewat pertanyaan tentang asal pembaptisan Yohanes, Yesus sesungguhnya menantang para pemimpin agama itu untuk mengakui kebenaran yang sudah mereka ketahui dalam hati mereka, sekiranya mereka berani jujur dan mengakuinya dengan tulus. Kita juga diundang untuk mempertanyakan dasar dari otoritas yang kita ikuti dan kebenaran yang kita pegang.
Apakah kita mencari Tuhan dengan ketulusan hati, ataukah kita masih tertahan oleh rasa takut akan pendapat manusia?
“Ya, Tuhan, semoga kami berani mengakui kebenaran-Mu, teristimewa, ketika pengakuan atasnya mendatangkan ancaman bagi keselamatan jiwa dan raga kami. Amin.”
Ziarah Batin

