Dua hal yang ditakuti, jika dialami oleh manusia adalah pengalaman/perasaan ditolak dan kehilangan/kesepian. Kedua pengalaman dasar ini ada di segala level dan pernah dialami oleh kita semua: sejak dari pengalaman kanak-kanak hingga saat ini. Lalu siapa yang bisa menyembuhkannya? Jawabnya adalah, diri sendiri!
Di dalam diri kita ada obat yang mujarab untuk menyembuhkan luka atau rasa sakit yang diakibatkan oleh pengalaman/perasaan ditolak dan kehilangan/kesepian itu.
Bayangkan orang yang ditolak dan kehilangan itu bisa marah, menutup diri, takut, cemas, kosong, dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Hari-harinya serasa dipenuhi dengan ketidakbahagiaan. Sukacita dan kegembiraan tidak pernah hadir di dalam dirinya. Dia merasa tidak ada obat lagi yang bisa menyembuhkannya. Sehingga dia lupa, bahwa obat penyembuh itu ada pada dirinya, tapi tidak pernah digunakannya.
Memasuki Minggu Adven ke-3 ini, diberikan kepada kita The Candle of Joy’ – Lilin Sukacita. Diperlukan satu lagi cahaya bagi kita untuk mempersiapkan seorang pribadi yang akan memberikan sukacita yang penuh kepada kita. Pada saat persiapan dan di hari kedatangan-Nya, seperti yang Santo Paulus ungkapkan, “Have no anxiety at all, but in everything, by prayer and petition, with thanksgiving, make your request known in God” (Phil 4: 5).
Para sahabat, berjalanlah selalu dengan JOY:
- J stands for Jesus. If we want joy, Jesus must come first.
- O stands for others. We love our family, our friends.
- Y stands for you. You have to be joy in the Lord always.
Bahkan ada yang berani dan percaya diri mengatakan, bahwa, “Joy is the sacred of the Christians.”
Kita juga sangat setuju dengan ungkapan ini. Sebab, Yesus telah menebus kita. Itulah sebabnya, kita bergembira selalu di dalam Tuhan.
Alleluya!
Rm. Petrus Santoso SCJ

