Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Hora Pecunia est”
(Waktu adalah Uang)
Tentang sang Waktu
Di dalam bidang filsafat, bahwa ‘sang waktu’ itu adalah sesuatu yang sangat kompleks dan bisa multifaset. Mengapa demikian? Memang waktu memiliki beberapa makna dan interpretasinya. Antara lain:
- Waktu adalah sebuah dimensi: dan waktu dikategorikan sebagai dimensi ‘keempat,’ selain dari dimensi ‘panjang, lebar, dan tinggi’ yang akhirnya membentuk struktur waktu.
- Waktu sebagai aliran: yakni sebuah aliran yang senantiasa bergerak dan membawa kita dari masa silam ke masa depan.
- Waktu sebagai sebuah ilusi: artinya waktu yang ada itu hanyalah waktu atau saat ‘sekarang’ dan yang bersifat abadi.
Ia kerap menghela nafas panjang dan berguman pelan, “Ini jelas korupsi waktu.” Dalam benaknya, jam kerja adalah milik perusahaan dan makan siang panjang di luar kantor sama saja dengan mencuri waktu produktif. Demikian isi paragraf kedua dari tulisan Eileen Rachman & Emilia Jakob, konsultan SDM, Kompas, Sabtu, (13/12/2025) kolom Karier berjudul, “Korupsi Waktu?
Ucapan ini secara implisit mengandung sebuah keluhan terselubung yang mempersoalkan hal ‘penggunaan waktu yang dianggap tidak efektif dan efisien’ alias tidak tepat guna, karena ada unsur ‘korupsi waktu’.
Di sisi yang lain, gumaman ini dianggap tidak rasional dan sangat berat sebelah alias bersikap tidak adil. Karena sering kali Bos juga bertindak di luar waktu dinas, bahkan meminta karyawan untuk berlembur dengan tanpa memperhitungkan, bahwa saat itu, justru di luar jam berdinas.
Dalam konteks ini, sesungguhnya perusahaan lupa, bahwa korupsi waktu tidak hanya berjalan satu arah. Ironisnya lagi, karena karyawan yang tidak disiplin terhadap waktu itu dilihat sebagai korupsi, sementara perusahaan juga kerap mencuri waktu karyawan dengan alasan loyalitas dan tanggung jawab. Demikian Eileen & Emilia.
Keadilan harus Ditegakkan
Secara tradisi di dalam negeri kita ini, para karyawan memang selalu kalah. Karena tidak jarang pihak perusahaan telah mencuri waktu milik karyawan dengan cara lembur tanpa bayaran atau pelatihan di luar jam kerja. Dampaknya ialah adanya keluhan dan protes terselubung dari pihak karyawan. Sehingga dalam hal ini telah terjadi gesekan-gesekan terselubung pula.
Akar Psikologis Korupsi Waktu
Fenomena korupsi waktu itu sesungguhnya adalah benturan nilai antara dua generasi: yang satu menegang waktu seperti jam mekanik yang lain memperlakukan waktu seperti energi yang perlu dikelola. Konkretnya, Pemimpin bergaya lama melihat produktivitas dari jam kehadiran. Sementara itu, pekerja modern yang hidup dalam dunia digital melihatnya dari sisi hasil, karena mereka bisa melakukan pekerjaan di mana dan kapan saja. Bagi mereka, jam kerja itu tidak lagi berarti berada di kantor, tapi ‘berkontribusi sesuai target’, demikian Eillen & Emilia.
Nilai sebuah Waktu
Sesungguhnya yang utama adalah melihat ‘nilai’ dari waktu yang telah digunakan, apakah memang berkualitas sesuai ekspektasinya?
Refleksi
- Pemimpin itusebaiknya juga bertanya, “Apakah saya sendiri menghormati waktu orang lain?”
- Di dalam organisasi yang sehat, rasa, dan syukur itu jadi pelumas produktivitas.
- Ketika orang merasa dihargai, mereka tidak perlu pura-pura, sibuk mengisi waktu. Mereka akan memberi waktu terbaiknya secara sukarela.
Demikian Eillen & Emilia mengakhiri tulisan mereka.
“Jadi, siapakah sesungguhnya yang telah mencuri waktu?”
Kediri, 14 Desember 2025

