“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan; sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!”
Pada Hari Minggu Sukacita ini, Allah menarik hati kami masuk ke dalam harapan yang bersinar, seperti yang dijanjikan melalui Nabi Yesaya: “Padang gurun dan tanah kering akan bersorak… tangan yang lemah dikuatkan… mata orang buta akan dicelikkan.” Allah mengajar kami untuk melihat karya-Nya dengan mata iman, bahkan sebelum kami melihat jawaban yang dinanti-nantikan itu.
Dalam Injil, Yohanes Pembaptis mengutus murid-muridnya dengan sebuah pertanyaan yang membara: “Engkaukah yang akan datang itu, atau haruskah kami menantikan yang lain?” Ia bukan bertanya, karena ragu, tapi agar kami jadi pasti, bahwa Mesias sungguh telah datang, dan bahwa karya-karya-Nya menyatakan jati diri-Nya.
Yesus tidak menjawab dengan gaya perdebatan, melainkan dengan tanda-tanda kerahiman:
“Yang buta melihat, yang lumpuh berjalan, yang kusta jadi tahir, yang tuli mendengar, yang mati dibangkitkan, dan Kabar Baik diberitakan kepada orang miskin.”
Ini adalah tanda-tanda yang telah dinubuatkan Yesaya. Karya yang dipuji dalam Mazmur 146. Inilah keajaiban yang mewartakan: “Allah telah datang menyelamatkan umat-Nya.”
Ketika Engkau datang, Tuhan, Engkau tidak membangun bala tentara untuk meruntuhkan kerajaan-kerajaan dunia. Engkau menyembuhkan yang remuk, mengangkat yang hina, memulihkan para terbuang, membuka yang tertutup mata, telinga, hati, dan seluruh hidup. Inilah sukacita keselamatan. Bukti, bahwa kerajaan-Mu sedang menerobos masuk ke dunia.
Seperti para murid Yohanes, kami sering kali jadi letih. Perjalanan iman terasa panjang. Penderitaan bagai menguji kesabaran kami. Pengharapan membutuhkan waktu untuk digenapi.
Yakobus mengingatkan kami: “Bersabarlah… teguhkan hatimu sebab Hakim sudah berdiri di ambang pintu.”
Para Nabi bertahan dengan harapan yang teguh, demikian juga kami harus bertahan. Sukacita bukan karena tiadanya penderitaan, melainkan keyakinan, bahwa Allah menyertai di setiap badai.
Bapa, kami mengenang kebesaran Yohanes Pembaptis. Seorang Nabi yang hidup sederhana, takut akan dosa, dan hanya menginginkan kehendak-Mu. Dari dalam penjara pun, ia tetap mengarahkan orang kepada Yesus. Dalam kegelapan, ia tetap menjaga nyala harapan.
Berilah kami keberanian dan kemurnian hati seperti itu serta sukacita yang lahir dari keyakinan, bahwa keselamatan-Mu sudah dekat.
Saat kami menghadiri Ekaristi, bukalah telinga kami untuk mendengar Sabda-Mu, lepaskan lidah kami untuk memuji-Mu, teguhkan tangan yang gemetar, dan kuatkan lutut yang goyah agar kami berjalan di jalan kudus menuju sukacita kekal. Yang dahulu tertawan oleh dosa dan maut, kini kami berdiri: ditebus dalam terang kerajaan-Mu.
Bersama semua yang berharap kepada-Mu, kami mendengar: “Inilah Allahmu.”
Kami berdoa: Datanglah, Tuhan Yesus. Datanglah. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

