“Jadi anak berbakti pada orangtua itu membahagiakan hati Ayah dan Ibunya. Teristimewa lagi adalah, jika kita taat dan setia pada kehendak Allah.” –Mas Redjo
Tidak ada orangtua di dunia yang mengharapkan anaknya itu hidup menderita dan sengsara, apalagi Allah yang anugerahi hidup ini.
Saya sungguh terinspirasi dan termotivasi dengan doa Yesus kepada Allah sebelum Dia disalib.
“… segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka” (Luk 15: 31).
Yesus berdoa agar murid-murid-Nya juga jadi satu seperti Dia dan Bapa yang adalah satu (Yoh 17: 11).
Kedekatan hubungan saya dengan orangtua adalah suatu bukti jalinan kasih nan indah. Orangtua itu tidak sekadar peka, tapi juga memahami kebutuhan anak. Tanpa diminta, mereka memenuhinya.
Pengalaman yang indah, ketika saya sedang bersama Ayah di kebun. Seorang teman bersepeda main ke rumah. Saya memegang dan mengelus sepeda itu, karena ingin memiliki juga.
Ternyata, sepeda impian itu jadi nyata. Ketika Ayah gajian, saya dibelikan sepeda baru, bahkan lebih bagus dari yang dimiliki teman itu!
Jika orangtua itu sayang kepada anaknya yang berbakti, teristimewa adalah Allah yang anugerahi hidup ini kepada mereka yang taat dan setia menuruti kehendak-Nya.
Penegasan itu tersirat jelas dalam firman Allah yang menekankan hubungan kasih dan kepemilikan dalam keluarga, “Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu” (Yoh 17: 10).
Tuhan memberkati.
Mas Redjo

