Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Agama terbaik adalah agama yang lebih mendekatkan Anda dengan Tuhan, yaitu agama yang membuat Anda jadi orang yang lebih baik.”
(Dalai Lama)
Semua Agama adalah Baik bagi Penganutnya
Di negeri tercinta ini, kita sering dirundung oleh kegaduhan, karena masalah perbedaan agama. Ada pihak yang dengan berani berkoar-koar, bahwa agamanya adalah yang terbaik dan terbenar, karena langsung diturunkan oleh Allah. Anggapan konyol serupa ini masih dianggap wajar, sejauh Anda tidak mengatakan, bahwa agama orang lain itu salah. Atau agama orang lain itu kafir dan semua penganutnya akan masuk Neraka. Jika sudah terjadi demikian, itu berarti kondisinya, sudah sungguh fatal.
Bahkan bukankah kini sudah ada trend baru hadirnya orang-orang (juru dakwa) alias apologet yang seolah mau berlomba-lomba mendebatkan soal agama, via media umum dan terbuka yang diikuti oleh umat manusia dari belahan bumi manapun. Jika hal ini yang terjadi, sesungguhnya, tidak ada gunanya. Karena ini bukan lagi sebagai sebuah forum dialog agama, tetapi sudah memasuki wilayah saling serang antar agama. Padahal di sisi lain, bukankah “semua agama adalah benar, bagi para pemeluknya?”
Dialog Kebijaksanaan
(Mari ikutilah dengan saksama!)
Berikut saya sajikan sebuah dialog yang sungguh menarik antara seorang ahli dari kelompok the Theology of Freedom asal Brasil, bernama Leonardo Boff dengan Dalai Lama, sang pemimpin umat Buddha asal Tibet.
Leonardo Boff bertanya kepada Dalai Lama, “Yang Mulia, apakah agama yang terbaik menurut Anda?”
Tentu Boff menduga, bahwa Dalai Lama akan menjawab bahwa agama Buddha itu yang terbaik. Eh, ternyata, dengan sambil tersenyum Biksu agung itu berkata, “Agama terbaik adalah agama yang lebih mendekatkan Anda dengan Tuhan, yaitu agama yang membuat Anda jadi orang yang lebih baik.”
Sambil menutup rasa malu, Leonardo Boff bertanya lagi, “Apakah tanda agama yang membuat kita lebih baik itu?”
Jawab Dalai Lama, “Agama apa pun bisa membuat Anda lebih welas asih, lebih berpikir sehat, lebih objektif dan adil, lebih menyayangi, lebih manusiawi, lebih punya rasa tanggung jawab, dan lebih beretika. Agama yang bisa membuat Anda mempunyai kualitas seperti di atas, itulah agama terbaik.”
Akhirnya sang penanya itu terdiam sejenak dan mulai mengagumi Dalai Lama. Boff pun sadar, bahwa sungguh, jawaban cerdas ini tidak dapat dibantah.
Selanjutnya, Dalai Lama berkata, “Tidak penting bagiku Kawan, apa agamamu, saya tidak peduli Anda beragama apa. Atau bahkan jika Anda tidak beragama. Karena yang sungguh penting bagi saya ialah perilaku Anda di hadapan kawan dan keluarga Anda, serta lingkungan kerja dan dunia Anda.”
Selanjutnya, Dalai Lama berkata, “Ingatlah, bahwa alam semesta ini hanyalah ‘echo atau gema’ dari perbuatan dan hasil pikiran kita. Jika kita bertindak baik, maka akan mendatangkan kebaikan. Jika saya berperilaku jahat, maka saya akan menerima balasan dengan kejahatan pula.”
Demikian selanjutnya, laksana sebuah khotbah hidup nan indah yang mengalir deras dari bibir tulusnya:
- Jagalah pikiranmu, karena akan jadi perkataanmu.
- Jagalah perkataanmu, karena akan jadi perbuatanmu.
- Jagalah perbuatanmu, karena akan jadi kebiasaanmu.
- Jagalah kebiasaanmu, karena akan membentuk nasibmu.
- Juga nasibmu itu akan jadi kehidupanmu.
- Sungguh, tidak ada agama yang lebih tinggi daripada sebuah kebenaran.”
(Heri Kartono, OSC/Ketika Semua Jalan telah Tertutup).
Refleksi
- Sungguh, mendengar jawaban arif dari Dalai Lama itu saya seketika merasa sangat malu.
- Marilah kita bersama menundukkan kepala kesombongan kita dan berkata, maafkan kami.
- Adakah tampak adanya relasi vertikal-horisontal dengan (Tuhan dan sesama) antarwarga kita?
- Sebuah bangsa dianggap sebagai bangsa religius, tentu tidak hanya ditandai, karena memiliki sebuah agama, bukan?
- Spirit keluhuran dalam beragama, hanya akan terpancar lewat seluruh ekspresi hidup Anda.
“Gloria Dei Homo Vivens”
(Kemuliaan Allah akan terpancar pada manusia yang hidup)
Kediri, 13 Desember 2025

