1.
Sudah seribu kali kupotret wajahmu Purnama
tetapi tak pernah sekalipun sama hasilnya
Telah kutemui ratusan kesempatan
namun pesonamu senja selalu berbeda
Apakah kalian berdua sudah janjian
untuk menipu mataku
Ataukah memang sejatinya purnama dan senja itu bunglon
Mungkinkah itu salah kameraku atau tempat aku berdiri membidik
Kapan senja dan purnama mau bicara padaku?
Jangan sampai tak boleh kagumi senja dan memburu purnama
2.
Menyusuri pantai memburu senja
Ku saksikan para nelayan sibuk siapkan jala dan kail
mereka akan melaut memanen ikan malam ini
Doa sahaja telah dititip melalui senja
dan semalam sesajen dipersembahkan bersama purnama
Anak-anak belia bermain pasir
sambil bercanda ria dengan buih ombak
Mereka senang saksikan bekas telapaknya dihapus ombak
dan dambanya dihanyutkan ke pelukan samudra
Mereka tak peduli senja atau purnama
3.
Duduk mengantar langkah senja
dan menantikan datangnya purnama
Kurebahkan nalar dalam buaian sepoi angin
Kubiarkan raga ditimang hangatnya pasir
Namun mata terusik ombak dan gelombang
yang pergi datang tak pernah lelah
entang siang maupun malam
dengan seribu wajahnya yang tak pernah sama
Kepada pasir pantai aku tanyakan
Apakah engkau mengenal ombak dan gelombang
Mengapa mereka selalu datang menghampiri engkau
Bahkan sering mengotori wajahmu?
4.
Tirai malam membawa nelayan ke istana bunda samudra
Anak-anak pulang membawa lelah untuk merajut mimpi
Purnama datang di ujung timur
melerai perbukitan dan pulau kecil
Wajah bulatnya seperti nyiur mengelindong di permukaan laut
Berkali-kali kupotret pesona indahnya
Kuharap saat datang mendekat
bisa kudapat gambar terindah wajahnya
Apalagi bisa bicara menyapa rinduku
dan mau menjawab deretan tanyaku
Bahkan bisa bercerita tentang senja
karena sepertinya mereka berdua kembar
Putri matahari yang terus bersinar

