Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Barang siapa berani bermain api, maka ia pun akan terbakar.”
(Hukum Kehidupan)
“Bisa jadi, bangsa ini adalah salah satu aktor dan pelaku utama kejahatan alam di muka bumi ini, yang pada suatu kelak nanti hanya akan mewariskan beragam bencana kepada anak cucu.” Demikian paragraf akhir dari tulisan Budi Sartono Soetiardjo, dalam Surat kepada Redaksi, Kompas, Kamis, (11/12/2025), berjudul, “Hentikan Genosida, Alam.”
Mengapa Terjadi Tragedi Bencana Alam ini?
Lewat sebuah tulisan di balik bencana alam yang aktual ini, kita berupaya untuk merefleksikannya, “Sesungguhnya, faktor siapa, apa, dan mengapa, sebagai penyebab utama dan pertama dari bencana alam yang memorakporandakan Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat ini?”
Sungguh, sangat naif, apabila manusia justru menyalahkan alam, setelah selama ini manusia secara sadar dan terencana mengoyak, menyakiti alam dan lingkungan tanpa rasa berdosa, demikian Budi Sartono.
Selanjutnya, dikatakannya pula, bahwa alam tidak pernah berulah ketika manusia mau menjaganya. Namun yang terjadi, alam justru diperdayakan, disakiti, tak sepadan dengan apa yang telah alam berikan kepada manusia.
Sebaliknya, kita berdalih, bahwa hal ini dilakukan atas nama pembangunan dan kemajuan, maka flora dan fauna kita bunuh. Jadi, dalam konteks ini, manusia masih mau berlindung dan berdalih demi membenarkan tindakan konyolnya itu. Hal ini sudah terbukti dengan terseretnya jutaan kubik kayu yang telah meluluhlantakkan pemukiman penduduk.
Budi Sartono dengan keras berkata, bahwa “bencana yang kini menimpah warga Sumatera adalah buah dari ketamakan dan kerakusan para pengurus negeri ini yang telah berlangsung puluhan tahun.”
Sebuah Pertanyaan Refleksi dan Retoris
“Bisakah negeri ini akan terhindar dari bencana alam yang mengerikan, jika mentalitas kerakusan dan ketamakan, justru masih bercokol mesra di dalam sanubari kita selaku manusia Indonesia?
Refleksi
- Dalam hal ini, siapa aktor intelektualnya, jika bukan kita manusia?
- Atas nama siapakah, maka jutaan hektar hutan pun dibabat?
- Siapakah yang harus bertanggung jawab atas ribuan nyawa yang telah jadi korban?
Semuanya itu, justru bermula dari dalam sanubari kita manusia!
Kediri, 12 Desember 2025

