Sambil berjalan balik ke kampus, sahabatku bertanya, “Bagaimana tangannya, Pak?”
Jujur, saya mencoba untuk dapat terus bertahan, tapi kadang rasa ngilu itu melampaui dayaku. Saat itu terjadi, saya mengeluhnya pada Tuhan. Pada-Nya saya tidak berpura-pura kuat, sebab di hadapan-Nya saya hanya manusia biasa yang rapuh, dan Tuhan paham itu.
Jadi, mengeluh pada Tuhan itu boleh, ya, Pak…
Boleh, mengeluh adalah manifestasi dari ‘kejujuran radikal’ (kejujuran absolut) dalam hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan. Pengakuan tulus, bahwa kita sebagai manusia yang terbatas, sedang bergumul, merasakan sakit, atau tidak memahami jalan-Nya.
“Doanya seperti apa, Pak?”
“Ya Tuhan, inginku hanya bertahan, menjalani hidup ini dengan tabah, meski rasa sakit itu ada. Ketika linu di tangan ini tidak tertahankan, desahku pada-Mu saja, semata sebagai pengakuan atas keterbatasanku. Berilah ketenangan hati untuk menerima segalanya. Ringankan beban sakit ini, jika sesuai kehendak-Mu. Aku percaya Engkau punya alasan terbaik dan mengizinkan aku mengalaminya, sesuai rencana-Mu.”
Salam sehat.
Jlitheng

